🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 20 Sya’ban 1437 H / 27 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 3)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-03
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 3)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(2) Yang Kedua*

Pastikan sebelum 1 Ramadhan, ilmu kita tentang puasa telah komplit, ilmu kita tentang Ramadhan telah komplit.

Ilmu tentang fiqih puasa, bagaimana sahur? Bagaimana buka? Apa doanya? Lalu tawarih seperti apa? Lalu i’tikaf? Lalu apa beda tarawih dengan tahajud? Lalu bagaimana jika kita sedang safar?

Itu komponen yang harus komplit, karena dalam shahih Bukhari, kaidah kita mengatakan:

العلم قبل القول والعمل

“Ilmu dulu sebelum berbicara dan beramal.”

Ilmu dulu, agama kita adalah agama ilmu. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al Isrā’ ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah anda mengikuti berbicara, melakukan sesuatu yang anda tidak tahu ilmunya.”

Jangan lakukan sesuatu, Allāh marah jika mengatakan.

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran anda, penglihatan anda dan hati anda, semuanya akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(QS Al Isrā’: 36)

Jadi pastikan ilmu kita komplit, jangan tanggal 15 Ramadhan baru mulai membuka buku, ini terlambat.

Tanggal 20 Ramadhan baru membuat kajian pembatal-pembatal puasa. Kemana saja?  Ini sudah tinggal 10 hari lagi.

Ini analogi sederhana saja, kita akan travelling, naik pesawat, begitu masuk ke pintu pesawat kita lihat pilotnya lagi buka-buka buku panduan bagaimana menerbangkan pesawat.

Kira-kira kita akan duduk di pesawat itu tidak?

Tidak, pilotnya saja baru belajar. Bagaimana bisa sukses?

Begitu juga dengan Ramadhan, bagaimana kita bisa sukses, jika kita tidak tahu panduannya, jika kita ikut-ikutan? Tidak bisa.

Dalam hadits Imam Ahmad, ini statement Nabi, bukan statement saya. Nabi kita mengatakan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa ganjarannya hanya lapar dan dahaga.”

(HR Ath Thabraniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi –yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya)

Tidak mendapatkan apa-apa.

Dan hadits ini menariknya menggunakan kata-kata rubba. Rubba dalam bahasa Arab adalah sebuah kata untuk mengungkapkan sesuatu dengan kuantitas (jumlah) yang banyak.

Jika kuantitasnya hanya 1, 2, 3, maka tidak memakai kata “rubba” dalam  bahas arab. Nabi menggunakan kata “rubba”, artinya banyak orang gagal puasa Ramadhan. Itu sabda Nabi.

Ini harus kita pikirkan, sudah komplit atau belum ilmu kita, komponen kita itu ? Baca! Ikuti kajian! Browsing! Goggling! Lalu crosschecked dengan ustadz yang mempunyai kapasitas di bidang ilmu fiqih, tanya. Sekarang waktunya.

Begitu masuk 1 Ramadhan, kita sudah tahu apa yang harus diperbuat. Apa yang harus kita prioritaskan. Amal-amal apa saja yang pahalanya luar biasa di sisi Allah. Ini harus kita maksimalkan.

Itu kiat yang kedua atau PR kita yang kedua sebelum kita bertemu dengan tamu yang begitu istimewa tersebut (Ramadhan).

*(3) Yang ketiga*

Kita harus mengetahui apa makna dibalik ibadah-ibadah yang kita kerjakan pada bulan Ramadhan.

Apa maknanya? Apa substansinya? apa hikmahnya?

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullāh, dalam Mukhtashar Minhajjil Qashidin, beliau menjelaskan bahwa salah satu faktor kegagalan seseorang padahal dia sudah beribadah, adalah dia tidak paham makna dari ibadah yang dia kerjakan.

Jadi, dia pikir hanya nahan lapar dan haus, hanya sujud rukuk begitu saja, akhirnya apa?

Akhirnya sikapnya kehidupannya tidak selaras dengan ibadah yang baru saja dia kerjakan, karena tidak mengerti apa maksud ibadah yang di lakukan. Jadi tidak selaras, tidak berjalan secara parallel.

Agar Ramadhan kali ini lebih bemakna, kita mendapatkan ampunan dari Allah, kita mendapatkan pembebasan dari siksa api neraka, kita harus tahu makna dibalik ibadah-ibadah tersebut.

Sebagai contoh saja, salah satu makna dari puasa Ramadhan itu apa sih?

Salah satu makna penting dari dan dibalik puasa Ramadhan adalah *Allāh ingin mengajarkan kita bahwa dalam hidup itu kita harus menginjak pedal rem, tidak bisa gas terus.*

Kita harus injak pedal rem ketika ada maksiat di depan kita, ketika ada hal yang haram di hadapan kita, ketika hawa nafsu kita bergelora dan meledak ledak di dalam hati kita, injak pedal rem.

Itu yang dilatih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Oleh karena itu dalam dua belas bulan Allãh meminta kita:

√ menahan nafsu makan kita,
√ menahan minum kita,
√ menahan nafsu syahwat kita.

Ini pelajaran penting.

Oleh karena itu, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadits Imam Ibnu Khuzaimah:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Inti puasa itu bukan tidak makan dan tidak minum, namun inti puasa kita menahan dari hal-hal yang sia-sia dan bermaksiat kepada Allãh.”

(HR. Ibnu Khuzaimah 7: 282 dan Hakim 4: 111. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jika kita menginginkan bahagia di dunia dan di akhirat, maka kita harus memainkan pedal rem (menahan), tidak boleh gas terus.

Misal, kita mendapatkan mobil sport “Lamborghini”, ini kan symbol kekayaan. Saya ingin tanya, Lamborghini memiki rem atau tidak?

Punya. Padahal symbol mobil sport saat ini, tapi ada remnya juga. Jika anda mendapatkan Lamborghini tetapi tanpa rem, kira-kira anda terharu atau protes?

Protes, “Lho, ini tidak ada remnya.”

Jadi kita paham, rem itu penting. Ketika kanvas rem kita bermasalah, maka kita akan service. Nah, kok bisa hidup tanpa rem?

Padahal, walaupun perjalanan hanya satu atau dua jam saja kita membutuhkan rem.

Begitu juga, anda ingin surga, tetapi tanpa rem, tidak mungkin, mustahil. Harus rem (menahan) ketika ada maksiat, tidak boleh gas terus, harus rem.

Tanpa rem, kita tidak akan bahagia, kita akan sengsara, karena ketika kendaraan kita remnya blong. Sementara kecepatan terus melaju, kita akan panik, kita bukan senang, tetapi kita akan panik.

Begitu juga dalam hidup, ketika rem kita blong, hidup kita tidak akan bahagia, kita akan galau dan galau. Kenapa?

Karena maksiat kita tabrak.

Tapi saya bisa mengerti, siapa yang suka menginjak rem? Kan tidak ada. Semua ingin gas, ketika kita sedang di depan traffic light, lampunya kuning, maka kita injak apa?

Injak gas! Tidak ada yang suka menginjak rem, semua ingin gas dan gas.

Itu fitrah, sama dalam hidup ini memang tidak enak ngerem (menahan), Nabi mengatakan:

وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang cocok dengan syahwat.”

(Shahih: HR. Ahmad (III/153), Muslim (no. 2822), Tirmidzi (no. 2559), dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Memang yang haram itu kelihatan enak-enak semua, tidak ada yang tidak enak, tetapi harus ngerem (menahan). Anda tidak akan bahagia, jika anda turuti terus hawa nafsu anda. Itulah yang diajarkan puasa.

*Apa sebetulnya yang membuat kita tidak bisa ngerem (menahan)?*

Ketika ada harta haram tetap injak gas, ada cewek (perempuan) yang tidak boleh didekatin tetap injak gas, kira-kira apa tuh yang membuat kita tidak atau susah mengontrol?

*Diantaranya, karena kita lebih banyak bermain dengan logika kita, bukan dengan dalil. Kita terlalu bermain dengan matematika kita.*

Contoh:

~~> Ada teman kita mengambil uang haram, kita katakan: “Bro, kok ngambil uang haram? Itu kan tidak boleh.”

“Iya sih, tapi anakku tiga-tiganya besok tahun ajaran baru, uang gedung mahal, sudah hitung tuh, anak-anak tidak akan bisa sekolah jika aku tidak ngambil duit itu.”

Nah, itu matematika kita yang dipakai, lupa kepada janji Allāh.

~~> “Mbak, kenapa tidak memakai jilbab?”

“Pengen sih, aku tahu jilbab itu wajib, tapi kalau aku pakai jilbab, jobku (pekerjaanku) hilang. Padahal aku masih singel parent, siapa yang memberi makan anak-anakku?”

Ini matematika kita lagi yang dipakai. Hitung-hitungan.

Saya kasih analogi, misalnya kita duduk dibangku sekolah. Kita mendapat soal matematika, soalnya begini:

Akh Fani berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan konstan 140 km/jam. Sedangkan akh Amor berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan yang tidak konstan, karena sering ngerem.

Pertanyaan, siapa diantara mereka yang paling cepat sampai Tanjung Priuk?

Jika kita sebagai siswa dan mengerjakan soal matematika, kira-kira yang sampai dulu ke Tanjung Priuk siapa? Fani atau Amor?

Tentu saja Fani.

Permasalahannya, jika saja matematika yang teori ini, kita terapkan dalam kehidupan yang nyata, siapa yang pertama kali sampai ke Tanjung Priuk? Fani atau Amor?

Maka, Amor.

Matematika itu bagus, tetapi bukan pondasi kita. Tidak semua rumus matematika bisa diterapkan, jangan memakai ini hitungan kita, Allāh mempunyai banyak rumus yang bisa membalikan teori kita.

Jika semuanya sejalan dengan matematika kita, maka tidak ada Ath Thalaq ayat 2-3:

…. وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ …..(٣)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allāh, Allāh akan berikan jalan keluar dan Allāh akan memberikan rizki dari arah yang tidak ia duga-duga.”

Jadi, jangan main-main. Dengan itu kita akan injak rem, semua orang jika memakai logika maka 140 km/jam akan lebih cepat sampai, tapi realitanya tidak demikian.

Harus injak rem!

Begitu juga dalam hidup, dan ini kita lupakan, sehingga begitu keluar Ramadhan, kembali lagi ke habitat kita. Kembali lagi ke komunitas kita, kembali lagi dengan habits kita, atau behavior kita.

Ramadhan, mengajarkan kita untuk selalu menginjak rem. Dan ini harus kita resapi selama sebulan penuh kita digembleng, ditraining oleh Allāh, di madrasah yang bernama Ramadhan.
____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Advertisements