🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 21 Sya’ban 1437 H / 28 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 4)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-04
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 4)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(4) Yang keempat*

Sebelum 1 Ramadhan, perbanyak istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemana-mana:

استغفر الله وآتوب إليه

Resapi dan ingat dosa-dosa kita.

Ustdadz, kok begitu, korelasinya apa ya? Kan kita mau ketemu Ramadhan, bukan mau dugem, bukan mau clubing.

Ulama mengatakan, yang membuat kita malas ibadah, yang membuat kita capek baru ibadah sebentar saja, itu karena beban dosa di pundak kita terlalu banyak.

Allāh berfirman dalam surat Al Muthaffin ayat 14:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali kali tidak, dosa-dosa mereka itulah yang menutup hati mereka.”

Sehingga mereka malas ibadah, mereka tidak beriman kepada Allāh, mereka meninggalkan amal shalih.

Jadi, semakin banyak beban dosa kita, semakin susah beribadah. Dan dosa itu akan mengundang teman-temannya.

Kata para ulama:

إِنَّ المَعْصَيَةَ تنادي أخته

“Sesungguhnya maksiat itu akan mengundang teman-temannya.”

Dan celakanya, itu terjadi di Ramadhan. Harus diputus mata rantai itu dengan istighfar, dengan taubat. Banyak istghfar, banyak taubat kalau kita ingin semangat dan bisa nyaman, bisa ringan di tubuh untuk  beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Istighfar dan istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini kunci dan ini nasehat para ulama kita agar “meet and Greet” kita dengan Ramadhan begitu bermakna.

*(5) Yang kelima*

Masuk Ramadhan, syiar kita adalah “lā haula walā quwata illā billāh”, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jangan mengandalkan kemampuan kita semata, jangan mengandalkan ilmu kita saja, jangan mengandalkan pengalaman.
 
Nggak bisa.

Ibadah itu taufiq dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan inilah, sekali lagi, bumerang bagi orang yang merasa dirinya  pengalaman. Dia cenderung mengandalkan pengalamannya, “Insya Allāh, tahun lalu juga bisa gua.”

Nggak bisa.

Bertumpulah kepada Allāh.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.”

Apa korelasinya?

Bapaknya ilmu tafsir, Al Imam Thabary rahimahullāh mengatakan:

“Iyya kana’ budu, adalah tujuan. Hanya kepada Allāh kami beribadah. Dan, iyya kanas ta’in, adalah sarana (jembatanya, jalannya).”

Artinya, anda tidak akan bisa beribadah kepada Allāh kalau anda tidak ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Nggak bisa, nggak bisa, hanya sekedar teori nggak bisa.

Masih ingat apa yang terjadi di perang Hunain, ketika fase pertama, kita kalah oleh musuh?

Dan Allāh berfirman dalam surat At Taubah ayat 25:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ

“Allāh telah menolong kalian di berbagai macam peperangan (Allāh yang tolong kalian, kata Allāh). Dan ingatlah, apa yang terjadi di perang Hunain, ketika sebagan kalian (segelintir kalian) ujub, mengandalkan banyaknya pasukan kalian (mengandalkan kekuatan militer kalian lupa bahwa selama ini anda ditolong oleh Allāh).”

K a l a h.

Padahal di dalam pasukan itu pakar-pakar perang semua, di dalam pasukan tersebut ada Rasullullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam, panglima perang nomer satu di dunia.

Ada Abu Bakar Ash Shdidiq, ‘Umar bin Khatbab, ‘Ustman bin Affan dan ada ‘Ali bin Abi Thalib, namun gara-gara segelintir yang ujub, bukan Nabi yang ujub, maka satu pasukan kalah, padahal mereka adalah pakar.

Kita sudah sepakat, testimoni tentang kita:

√ kita bukan pakar puasa,
√ kita bukan pakar tahajjud,
√ kita bukan pakar baca Al Qur’an.

Lalu kita masuk Ramadhan hanya mengandalkan pengalaman kita?

Kalah, nggak bisa.

Minta kepada Allāh, berdoa agar Allāh mudahkan, agar Allāh lancarkan, agar Allāh kuatkan mata kita untuk begadang membaca Al Qur’anul karim.

Kalau nggak?

Nggak bisa, susah, jangan mengandalkan kemampuan kita. Andalkan kemampuan Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Nabi mendidik kita, disetiap hari 2 kali kita diminta membaca doa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Allāh yang maha hidup dan mengatur kehidupan seluruh alam semesta ini, dengan rahmat-Mu aku meminta keselamatan, perbaiki segala urusanku (shalatku, dzikirku, puasaku dan seterusnya) dan jangan biarkan aku bertumpu pada diriku walaupun sekejap mata.”

Ini Nabi lho yang membaca pertama kali. Nabi nggak mau bertumpu dengan dirinya.

Lalu kita masuk Ramadhan dengan bertumpu dengan kedua kaki kita yang keropos ini?

Nggak bisa.

Nabi, yang apabila shalat tahajjud sampai kaki Beliau bengkak, saking lamanya shalat, nggak bisa dan minta pertolongan pada Allāh.

Jangan masuk Ramadahan hanya mengandalkan ilmu kita, pengalaman kita, nggak bisa.

Walaupun pengalaman kita puluhan tahun, (hendaknya) seakan akan kita baru pertama kali. Kita membutuhkan bimbingan dari Al ‘Alim, Al Khabir, Arrahman, Arrahim.

____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Advertisements