Note:

It’s gonna be a long post. Perlu diingat bahwa milestone setiap anak berbeda karena setiap anak adalah individu yang unik. Saya akan sharing tentang apa yang anak saya alami, bisa saja sama dengan anak Anda, bisa pula berbeda. Namun, untuk kasus gangguan tumbuh kembang, akan ada beberapa red flags (tanda bahaya bahwa anak mungkin butuh bantuan yang lebih khusus) yang sama pada setiap anak. Post ini bertujuan untuk memberi informasi mengenai red flags tersebut, dan cara kami (saya dan ayahnya) mencoba mengatasinya. Semoga bermanfaat.

Saya akan melanjutkan post saya sebelumnya mengenai anak saya, babyAm. Well, he’s no longer a baby, hehe.. Usianya sekarang (saat saya membuat post ini) hampir 3 tahun dan sudah 1 tahun menjalankan terapi sensori integrasi (SI). Apa itu SI? Mengapa babyAm butuh SI? Mari saya ceritakan dulu pengalaman satu tahun lalu ketika babyAm berusia 16 bulan.

 

AbuAm (suami saya) sebenarnya sudah mulai bertanya-tanya: babyAm kenapa belum ngomong? Kenapa dipanggil namanya ga nengok? Nah, tapi saya yang melihat milestone babyAm sejak lahir memang serba telat jadi saya masih santai saja dengan anggapan: ah nanti juga bisa babyAm.. Maksudnya serba telat: mulai tengkurap juga telat, mulai duduk juga telat, mulai jalan juga sudah satu tahun lebih, jadi ketika babyAm belum bicara saya anggap juga begitu. Kalau lihat sejarah dari AbuAm pun ketika kecilnya baru bicara umur 3 tahun. Jadi saya fikir: mungkin babyAm juga cuma telat aja, ga ada yang salah kok…

 

Singkat cerita, sampailah kami pada moment lahiran adiknya babyAm. Saat itu ada sepupu AbuAm yang datang menjenguk sambil bawa anaknya yang seumuran dengan babyAm, namanya Vina. Vina ini suka banget cari perhatian orang dewasa, dan sudah bisa menyatakan apa yang dia suka atau tidak, sudah bisa berinteraksi secara verbal deh pokoknya, padahal Vina ini lebih muda beberapa bulan dari babyAm. Moment inilah yang membuat saya mulai paranoid seperti AbuAm: aduh, babyAm kenapa ya? Jangan-jangan…. Yes, I was starting to feel scared for my babyAm.

Jadi ketika babyAm harus imunisasi saat 18 bulan, saya putuskan untuk sekalian tanya masalah tumbuh kembang ini ke dokter spesialis anak (dsa) kami. Di awal kehidupannya (tsaailaah :D) babyAm rutin imunisasi di RSIA Tambak Jakarta dengan dr. Diah Pramitha, SpA. Beliau adalah dsa yang cukup sibuk ya, apalagi kalau kami imunisasi hari Sabtu. Memang kalau ramai pasien, dokternya terkesan buru-buru, namun dr. Diah ini menurut saya tetap teliti masalah tumbuh kembang. Waktu itu jadwalnya babyAm imunisasi DTP Hib (kalau mau lihat simulasi jadwal imunisasi batita<2 tahun bisa cek di sini). Nah sehabis imunisasi, sebelum saya mau tanya masalah perkembangan babyAm, dsa-nya sudah notice duluan dan tanya: babyAm udah ngomong belum ya? Sudah ada kosa kata? Di rumah main apa aja? Kalau main dia lihat ibunya ga? Atau liat orang lain? Dipanggil nengok gak? ….Jleb, justru ini yang mau saya tanya. Saya jawab sesuai kondisi babyAm pada saat itu: belum dok, ga jelas dok bahasanya, main macem-macem (balok, puzzle, susun-susun ring, main HP dan nonton video lagu-lagu anak), ga liat mata orang, sukanya sibuk sendiri, gak nengok dok..dia mungkin belum ngerti namanya.

 

Yang terjadi selanjutnya adalah dr. Diah menulis di buku imunisasi babyAm, lalu dia membahasakan ketakutan saya: Bu, kayanya ini ada gejala autis, tapi autis ringan. Ini bukan bidang saya. Ibu sebaiknya ke spesialis syaraf anak, ada di St. Carolus atau coba ke Hermina Jatinegara dengan Prof. Taslim. Saya sangat ingin menangis saat itu juga di ruang periksa namun saya tahan. Tetapi beberapa minggu setelah pertemuan dengan dr. Diah saya galau luar biasa. Saya marah pada dsa kami (dalam hati tentunya): ih apaan tu dsa bilang-bilang anakku autis? katanya bukan bidang dia, terus seenaknya vonis, seenaknya label!! Lalu saya juga jadi sering menangis, bertanya kenapa begini-kenapa begitu-dosa apa saya dan memohon pada Allah agar babyAm dinormalkan (ini adalah stigma yang otomatis akan tercipta ketika orang tua mendapat vonis anaknya “tidak normal”, tapi semakin saya bisa menerima keadaan semakin saya mengerti bahwa stigma ini kurang tepat dan perlu diluruskan.. pembahasan lebih lanjut mungkin di post berikutnya ya, insyaAllah 🙂 )

 

Saya dan AbuAm memutuskan untuk datang ke Prof.Taslim di Hermina dan dapat jadwal ketemu ketika babyAm umur 19 bulan. Nanti bisa diliat sendiri di foto ya, tulisan pak Prof-nya….karena sampai sekarang saya gak bisa baca tulisan beliau hee.. but let me tell you what happened when we met the Prof. Jadi Prof. Taslim ini orangnya sudah tua sekali ya dan baiiiiik banget kayak kakek sendiri :). Yang pertama dilakukan setelah kami ceritakan tentang pertemuan dengan dr. Diah adalah beliau ambil lonceng kecil dan dibunyikan untuk tes pendengaran babyAm, dan babyAm nengok. Kata Prof-nya: OK, denger tuh dia. Kemudian Prof. Taslim mencoba berinteraksi langsung dengan babyAm. babyAm cuek ya dan lebih tertarik melihat lingkungan sekitarnya seperti wastafel di samping dokter, tempat tidur pasien, pokoknya babyAm keliling-keliling aja dan sesekali saja melihat Prof, suster, mau pun saya, AbuAm, Nini dan adiknya yang juga sedang di dalam ruang periksa. Prof. Taslim kemudian bilang: Kalau dari cerita Ibu, dan saya lihat anak ini langsung kayanya cuma speech delay aja ya. babyAm kurang stimulus, jadi akan saya ajarkan kasih stimulus dan cara main dengan babyAm.

Jadi waktu itu kami disuruh pulang, dan disuruh kontrol setelah 1 bulan. Prof. Taslim hanya memberi vitamin B (2x 1 hari) untuk meningkatkan konsentrasi dan bantu anak jadi lebih tenang, lalu saya diajarkan cara bermain dengan babyAm. Kok main aja diajarin sih? Ya karena ibunya clueless. Gini caranya:

  1. No TV! No Youtube! No gadget at all! Pun terpaksa banget harus kasih tontonan maksimal 1 jam per hari. Kenapa? Karena anak-anak dengan gangguan perkembangan punya kecenderungan untuk semakin pasif dengan komunikasi one-way yang mereka peroleh dari menonton TV. Dan memang sebelumnya, saya jejelin babyAm dengan video-video lagu anak berbagai bahasa dengan harapan babyAm bisa tiru nyanyi dan menari. TET TOOOTTT! Salah Ummiiii, ternyata babyAm malah jadi males ngomong.
  2. Ikutan main bareng babyAm, minimal 8 jam per hari. Maksudnya ikutan main adalah ikut berinteraksi dengan babyAm ketika babyAm bermain sesuatu, bukan hanya kasih mainan ke anak lalu Ummi di sampingnya sibuk sendiri liat HP. Ya wajar aja kalau babyAm juga jadi asyik sendiri, orang babyAm dibiarin main sendirian. babyAm harus diajak ngobrol, diajarkan tunjuk bagian tubuh, dan mengenal diri dan keluarganya.
  3. Ajarkan instruksi sederhana dengan reward. Saya fokus di 3 instruksi yang memang babyAm sudah sedikit mengerti kalau dia mau minta makan atau ngemil. Jadi setiap babyAm mau cemil-cemil saya suruh dia duduk, atau salam, atau tos. Tapi memang babyAm kadang mau, seringan kabur….meaning babyAm lebih sering memilih kabur dan gak jadi ngemil daripada disuruh-suruh. Haehhh..

 

Sebulan kemudian, babyAm 20 bulan, kami kembali konsultasi dengan Prof. Taslim. Saya disuruh mendemonstrasikan babyAm sudah bisa apa setelah diberi 1 bulan stimuli (cara main yang benar itu). Saya lalu suruh amru untuk duduk, salam, dan tos…eng ing eng, failed! Lalu ditanya bagian tubuh sama Prof. Taslim, failed juga. Kontak mata juga belum ada 😦 . Saya rasa tidak ada 15 menit mengamati babyAm, Prof. Taslim bilang: OK, terapi ya.. Belum 2 tahun kan babyAm? Bisa cepet ko ini belajarnya, memang butuh intervensi dini. Saya kasih rujukan ke Klinik Anakku Check My Child (CMC) di Kayu Putih. Itu klinik punya temen saya..bla..bla..bla (saya sudah lemas, gak dengerin lagi.. dalam hati saya: man..it’s bad right? My son needs a therapy, is it really that bad? 😥 ) AbuAm sangat curious dan tidak dapat menahan diri untuk tanya: Prof ini babyAm autis? Jawaban dari beliau adalah babyAm punya gejala autisme tapi tidak semua, kelihatannya babyAm lebih ke arah PDD-NOS. Hummm….another term, no less creepy, still got me stressing. Bagi yang curious PDD-NOS itu apa, silahkan googling sendiri ya..,because I have, and the more I browsed, the more confused I get.

 

Saya dan AbuAm sadar bahwa kami butuh bantuan profesional di sini, SOON. Maka kami langsung datangi Klinik Anakku (CMC) setelah selesai periksa di Hermina. Kami tanya informasi bagaimana cara kalau mau terapi di situ? dan begini kira-kira infonya:

Ooo, harus observasi dulu Bunda, Rp. 250 per jam. Nanti dicariin jadwal terapinya. Bunda tinggalin no. telepon aja ya biar kami cari jadwal observasi dengan terapis. Bunda gak perlu observasi sama dokter lagi berarti ya (karena babyAm sudah dapat rujukan dari Prof. Taslim).

Nah, sambil menunggu ditelepon lagi oleh CMC Kayu Putih, kami juga cari informasi ke klinik tumbuh kembang yang lebih dekat ke rumah kami, yaitu Klinik Ruwivito Harun (RHE) Evasari. Klinik ini letaknya di depan RS Evasari, Pramuka. Secara umum biaya terapi dan observasi di sini is less expensive dan saya juga diminta meninggalkan no. telepon untuk dicarikan jadwal observasi. Setelah itu saya dan AbuAm sepakat, mana duluan yang dapat jadwal observasi, itu yang akan jadi tempat terapi babyAm. So then we wait….

 

Akhir Mei 2015 kami dapat jadwal observasi di CMC Kayu Putih. Nah ini nih ya topik utama nya sesuai judul post ini (udah kelamaan baca post-nya ya? ahaha..) OK, kita lanjut ke part 2 aja ya. Isi observasi pertama babyAm di klinik tumbuh kembang yang sekarang jadi tempat terapinya. Next post ya 🙂

 

Advertisements