🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 06 Muharram 1438H / 07 Oktober 2016M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 33 | Shalāt Sunnah

MATAN KITAB

والصلوات المسنونات خمس العيدان والكسوفان والاستسقاء والسنن التابعة للفرائض سبع عشرة ركعة ركعتا الفجر وأربع قبل الظهر وركعتان بعده وأربع قبل العصر وركعتان بعد المغرب وثلاث بعد العشاء يوتر بواحدة منهن وثلاث نوافل مؤكدات صلاة الليل وصلاة الضحى والتراويح.

Adapun shalat sunnah ada 5 (lima) yaitu:

① Idul Fitri dan Idul Adha,
② Gerhana matahari (kusuf as Syamsi) dan gerhana bulan (khusuf al qamar);
③ Shalat istisqa’ (minta hujan).
④ Adapun shalat sunnah rawatib yang bersamaan dengan shalat fardhu ada 17 (tujuh belas) raka’at.

Yaitu dua rokaat sebelum shalat subuh, empat raka’at sebelum dzuhur, dua rokaat setelah dhuhur, empat raka’at sebelum ashar, dua raka’at setelah maghrib dan tiga rokaat setelah isya’ dengan shalat witir (ganjil) dengan satu raka’at terakhir.

⑤ Ada 3 (tiga) shalat sunnah mua’akkad yaitu shalat malam, shalat dhuha dan shalat tarawih.
➖➖➖➖➖➖➖

SHALAT SUNNAH
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada halaqah yang ke-33 ini kita akan membahas tentang “Shalat Sunnah”.

Sebelum masuk ke dalam matan kitab maka saya mengajak diri dan Sahabat sekalian untuk memperbanyak shalat sunnah yang diajarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdasarkan hadīts-hadīts (dalil-dalil) yang shahīh.

Diantara faidah dalam memperbanyak amalan shalat sunnah diantaranya adalah:

⑴ Bahwasanya dengan memperbanyak amalan shalat sunnah maka itu menjadi washilah untuk mendapatkan kecintaan dari Allāh kepada kita, dengan syarat bahwasanya kita menjaga amalan-amalan ibadah yang wajib.

Sebagaimana di dalam hadīts Qudsi yang shahīh yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwa Allāh Ta’āla berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ…

(فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا)

… وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri beribadah kepadaKu dengan sesuatu yang Aku cintai melebihi dari pada ibadah-ibadah yang telah aku wajibkan kepadanya.
Dan seorang hamba (-setelah dia mengerjakan amalan-amalan yang wajib-) senantiasa terus mendekatkan diri beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepadaKu dengan amalan-amalan yang sunnah sampai aku mencintainya.”

⇒ Maksudnya adalah bahwasanya Allāh Ta’āla mencintai seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allāh dengan amalan-amalan yang diwajibkan kepadanya.

Kemudian sampai pada lafazh
“Tatkala Allāh telah mencintai dia” (فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ)

وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Dan jika dia meminta kepadaKu niscaya akan Aku penuhi permintaannya. Dan apabila meminta perlindungan kepadaKu niscaya akan Aku lindungi dia.”

⑵ Dengan shalat sunnah maka akan menutup kekurangan yang ada pada shalat yang wajib.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imām Abū Dāwūd bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

(إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلَاةُ) ، قَالَ : (وَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ : انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا ؟ فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً ، وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا ، قَالَ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ ، قَالَ : أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ

“Sesungguhnya amalan manusia yang pertama kali dihisab (diperhitungkan) pada hari kiamat adalah amalan shalatnya.

Kemudian Nabi bersabda: Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla bertanya kepada para malaikatNya dan Allāh Maha Mengetahui akan hal itu:

Lihatlah shalat hambaKu apakah sempurna ataukah kurang?

Maka apabila sempurna akan dicatat sebagai amalan yang sempurna. Dan apabila berkurang sesuatu dari shalatnya maka Allāh berfirman: Lihatlah apakah hambaKu punya amalan-amalan shalat sunnah?

Maka apabila dia memiliki amalan shalat sunnah, Allāh Ta’āla berfirman: Sempurnakanlah shalat wajib hambaKu dengan shalat sunnahnya.”

قال المصنف رحمه الله:
((والصلوات المسنونات خمس))

((Dan shalat sunnah/nafilah ada 5))

● PERTAMA

((العيدان))

((Dua shalat ‘Īd))

⇒ Yaitu shalat ‘Īdul Fithri dan shalat ‘Īdul Adha.

Disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah bahkan dikatakan hukum berjama’ah adalah fardhu kifayah.

Dalilnya adalah perbuatan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

● KEDUA

((والكسوفان))

((Shalat 2 gerhana))

Yaitu shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.

Hukum shalatnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan/dianjurkan) karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukannya dan memerintahkannya. Dan disunnahkan pula untuk melakukannya berjama’ah.

● KETIGA

((والاستسقاء))

((Dan shalat mohon untuk diturunkan hujan))

Dan disunnahkan juga untuk dilakukan secara berjam’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

● KEEMPAT

((والسنن التابعة للفرائض سبع عشرة ركعة))

((Sunnah-sunnah yang mengikuti shalat wajib ada 17 raka’at))

Para sahabat Imām Syāfi’ī berbeda pendapat tentang berapa jumlah raka’atnya.

Adapun yang disebutkan oleh Penulis di sini adalah sebanyak 17 raka’at, yaitu:

((ركعتا الفجر وأربع قبل الظهر وركعتان بعده وأربع قبل العصر وركعتان بعد المغرب وثلاث بعد العشاء يوتر بواحدة منهن))

• 2 raka’at sebelum shalat Shubuh
• 4 raka’at sebelum shalat Zhuhur
• 2 raka’at setelah shalat Zhuhur
• 4 raka’at sebelum shalat ‘Ashar
• 2 raka’at setelah shalat Maghrib
• 3 raka’at setelah shalat ‘Isya dengan witir salah 1 nya

⇒ Jadi 2 raka’at ditambah 1 raka’at Witir.

Totalnya adalah 17 raka’at yang mengikuti shalat fardhu berdasarkan yang disebutkan oleh Penulis.

Namun para sahabat Imām Syāfi’ī kebanyakan menyebutkan 10 raka’at atau 12 raka’at yaitu rawātib yang mu’akkad, maksudnya adalah shalat rawātib yang senantiasa dikerjakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Berdasarkan hadīts Ibnu ‘Umar, diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim. Kata beliau:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَحَدَّثَنِيْ حَفْصَةُ بِنْتُ عُمَرُ رضي الله تعالى عنهما أَنَّ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَعْدَ مَا يطلع الْفَجْر

“Saya shalat bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam;
⑴ 2 raka’at sebelum Zhuhur
⑵ 2 raka’at setelah shalat Zhuhur
⑶ 2 raka’at setelah shalat Maghrib
⑷ 2 raka’at setelah shalat ‘Isyā

Dan Hafshah bintu ‘Umar mengabarkan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam shalat 2 raka’at yang ringan setelah terbit fajar (yaitu sebelum shalat Shubuh).”

Jadi yang ke-5 adalah:

⑸ 2 raka’at sebelum shalat Shubuh

Adapun yang mengatakan bahwa sebelum shalat Zhuhur adalah 4 raka’at berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَمْ يَدَعْ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ

“Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan 4 raka’at sebelum shalat Zhuhur.”

Adapun yang lain maka termasuk perkara yang mustahab namun tidak sampai derajat muakad (sangat ditekankan) yaitu 4 raka’at sebelum shalat ‘Ashar.

Adapun 2 raka’at sebelum shalat Maghrib maka menurut Imām Nawawi yang shahīh adalah termasuk mustahab (sunnah) karena disana ada khilaf apakah 2 raka’at sebelum shalat Maghrib termasuk sunnah atau tidak termasuk sunnah.

Imām Nawawi berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِالْمَغْرِبِ – قَالَ فِي الثَّالِثَةِ -: لِمَنْ شَاءَ

“Shalatlah kalian sebelum shalat Maghrib- Beliau mengatakan setelah 3 kali mengucapkan- Bagi yang menginginkan.”

Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut adalah sunnah dan tidak muakkad.

■ KEUTAMAAN SHALAT RAWĀTIB

Keutamaan shalat rawātib di dalam Shahih Muslim, dari Ummu Habībah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

من صلى اثنتي عشرة ركعة في يوم وليلة بني له بهن بيت في الجنة ” قالت أم حبيبة: فما تركتهن منذ ان سمعتهن من رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa yang shalat 12 raka’at sehari dan semalam maka akan dibangunkan untuknya rumah di surga.”

Maka berkata Ummu Habībah, “Sejak saya mendengar dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka saya tidak pernah meninggalkan amalan tersebut.”

● KELIMA
قال المصنف:
((وثلاث نوافل مؤكدات))

((Dan 3 shalat sunnah yang muakkad))

Yaitu yang sangat ditekankan/dianjurkan;

١. ((صلاة الليل))

1. ((Shalat malam))

Dalam hadits riwayat Hākim yang mana syaratnya sesuai syarat Bukhāri, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ ، فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ ، وَ قُرْبَةٌ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ ، ومكفرة لِلسَّيِّئَاتِ ، وَمَنْهَاةٌ عَنَ الْإِثْمِ

“Hendaklah kalian menjaga shalat malam karena itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian dan ibadah yang mendekatkan kepada Tuhan kalian dan juga sebagai penebus dan pencegah dari perbuatan dosa.”

Dan juga shalat malam adalah ciri orang-orang yang beriman.

Allāh Ta’āla berfirman,

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan mereka senantiasa memohon ampun pada waktu-waktu sahur
(Yaitu pada waktu sepertiga malam).” (Adz-Dzāriyāt 18)

٢. ((وصلاة الضحى))

2. ((Shalat Dhuha))

Yaitu shalat sunnah minimal 2 raka’at di waktu dhuha (antara 15 menit setelah terbitnya matahari sampai zawwal).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاثٍ : صِيَامِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ , وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى , وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berkata, “Bahwasanya kekasihku (yaitu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) pernah memberikan wasiat kepadaku dengan 3 perkara; puasa 3 hari setiap bulannya, mengerjakan 2 raka’at shalat Dhuha dan shalat Witir sebelum tidur.” (HR Bukhāri dan Muslim)

٣. ((والتراويح))

3. ((Shalat Tarāwīh))

Yaitu shalat malam di setiap malam bulan Ramadhān.

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًاغُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menegakkan shalat malam di bulan Ramadhān (maksudnya shalat Tarāwīh) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah terdahulu.”
(HR Bukhāri dan Muslim)

Sampai disini yang bisa kita sampaikan.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
___________

Advertisements