Note:

It’s gonna be a long post. Perlu diingat bahwa milestone setiap anak berbeda karena setiap anak adalah individu yang unik. Saya akan sharing tentang apa yang anak saya alami, bisa saja sama dengan anak Anda, bisa pula berbeda. Namun, untuk kasus gangguan tumbuh kembang, akan ada beberapa red flags (tanda bahaya bahwa anak mungkin butuh bantuan yang lebih khusus) yang sama pada setiap anak. Post ini bertujuan untuk memberi informasi mengenai red flags tersebut, dan cara kami (saya dan ayahnya) mencoba mengatasinya. Semoga bermanfaat.

Saya akan melanjutkan post saya sebelumnya mengenai anak saya, babyAm. Maaf kelamaan baru nge-post lanjutannya yaa, biasalah emak-emak sok sibuk ;p
Observasi pertama babyAm di Klinik Anakku Kayuputih hanya dilakukan oleh satu orang terapis dan tidak dengan dokter, karena babyAm sebelumnya sudah dapat rujukan dari dokter syaraf anak (Prof. Taslim, Hermina Jatinegara). Nah, kalau misalnya anak Anda belum pernah diperiksa atau belum ada rujukan, maka prosedur umum observasi di Klinik Anakku adalah dengan seorang dokter dan seorang terapis. Tips untuk orang tua yang akan observasi (di klinik tumbuh kembang mana pun): usahakan datang 15 – 30 menit lebih awal, karena biasanya kita akan diminta untuk mengisi form data tentang tumbuh kembang anak yang sangat detil. Sebagai gambaran, di Klinik Anakku form pertama yang harus diisi mencapai 10 halaman. Dan kalau bisa juga, bawa catatan medik / buku imunisasi anak yang biasanya diperoleh dari RS tempat anak kita lahir, karena akan memudahkan kita mengisi pertanyaan-pertanyaan tentang kondisi anak ketika baru lahir.

Form data ini sangat detil ya, jadi cukup menguras memory saya yang notabene tidak reliable, haha. Saya bukan orang yang punya ingatan kuat, jadi ketika datang untuk observasi, saya mengikuti insting saja untuk membawa buku imunisasi babyAm. Dan alhamdulillah insting saya tidak salah, karena pertanyaan pada form data mencakup berat dan panjang anak ketika lahir, imunisasi apa saja yang pernah diberikan, bahkan ditanya kondisi ibu ketika anaknya masih di dalam perut. Juga ada pertanyaan tentang pola tidur, pola makan, aktivitas bermain anak seperti apa, kapan anak mulai tengkurap, merangkak, duduk, berjalan, kapan tumbuh gigi, dan sebagainya. Ketika pertama kali observasi, orang tua anak akan diminta untuk membawa serta orang yang biasa mengasuh anaknya. Hal ini biasanya berlaku bagi anak yang kedua orang tuanya bekerja, jadi either anaknya diasuh oleh nenek-kakeknya atau mungkin dengan bantuan pengasuh. Hal ini bertujuan agar data observasi yang diperoleh bisa lebih akurat. Pada kasus saya waktu itu, saya membawa mamah mertua yang memang sempat mengasuh babyAm selama 10 bulan ketika saya masih bekerja. Mamah membantu saya mengisi form jika ada pertanyaan yang saya ragu menjawabnya.

Yang akan saya ceritakan di sini berdasarkan pengalaman saya pada waktu itu ya (Mei 2015) jadi kalau Anda mungkin berniat untuk membawa anak Anda ke Klinik Anakku setelah membaca post ini, saya sarankan untuk tetap janji by phone dulu untuk memastikan teknis observasi dan juga biayanya yang paling update. Setelah selesai isi form, anak akan diobservasi selama sekitar 30 menit, dan 1 jam berikutnya akan ada sesi interview dengan terapis dan atau dokternya. Observasinya seperti apa sih? Anak akan diajak main dalam ruangan terapi yang isinya ada macam-macam permainan seperti perosotan, ayunan, bantal-bantal balok, mainan puzzle dan lego, terowongan kain, dll. Ketika observasi basically anak kita akan dibiarkan explore sendiri mainan apa yang ia suka, sambil dipancing komunikasi dengan terapisnya. Cuplikannya bisa cek di link ini ya.
Setelah itu, orang tua (didampingi dengan pengasuh sehari-hari anak, jika anak lebih banyak diasuh orang lain) akan diwawancarai dalam ruangan terpisah. Interview-nya ini cukup lama dan bikin lelah ya kalau buat saya karena sangat detil, dan juga sangat emosional, karena pertanyaan-pertanyaannya seolah mancing curhat :’)
Saya masuk ke dalam ruang interview sambil menggendong Deisyah yang waktu itu belum genap 2 bulan usianya, Mamah saya menunggu di luar sambil main dengan babyAm.
Dalam post ini akan saya berikan kutipan tanya-jawab saya waktu itu (poin-poin yang rasanya cukup penting saja ya), semoga bermanfaat 🙂

Terapis (T) : Sebelum saya jelaskan kondisi babyAm, saya tanya-tanya beberapa hal dulu ya Bu.
Saya (W) : Iya.
T : Ini hamil adiknya babyAm waktu babyAm umur berapa, Bu?
W: Mmm, sekitar 9 atau 10 bulan lah..
T : Memang direncanakan?
W: Nggak sih, memang gak pakai KB juga.
T : Sebelum hamil yang kedua, babyAm masih ASI?
W: Jadi waktu babyAm bayi, saya sempat masih kerja..Usia 0-5 bulan babyAm sempat dapat ASI eksklusif, tapi masuk bulan ke-6 saya sudah ga kuat pompa ASI di kantor. Siang hari itu ASI saya sangat sedikit, bahkan cenderung tidak ada. Malam baru babyAm menyusui langsung. Nah umur 5 bulan itu sudah campur dengan susu formula dan usia 6 bulan mulai MPASI dengan bubur tim atau bubur bayi instan.
T : Sebelum ke Prof. Taslim, sempat ke dokter lain?
W: Ada, dr. Diah.
T : dr. Diah bilang apa tentang kondisi babyAm?
W: Jadi pas imunisasi umur 18 bulan, dokternya nanya apa babyAm sudah bisa ngomong? Saya jawab: belum. Apa sudah ada kata-kata yang bermakna? Belum ada juga. Lalu dokternya minta saya berikan instruksi sederhana untuk babyAm seperti tepuk tangan: nah babyAm gak mau juga, kontak mata dengan orang lain juga kurang. Nah, di situlah dr. Diah bilang: ini sepertinya ada autis ringan ya Bu, tapi ini bukan bidang saya. Lalu dr. Diah berikan rujukan untuk saya agar bawa babyAm ke Hermina untuk periksa dengan Prof Taslim. Umur 19 bulan kami bawa babyAm ke Hermina. Sama Prof Taslim dicek pendengarannya pakai bel, itu babyAm nengok ke sumber suara. Terus diamati perilaku babyAm waktu itu yang sibuk sendiri, babyAm suka mengamati barang-barang di sekitarnya dan suka jilat dinding.
T : Sebentar Bu, babyAm sampai sekarang masih suka jilat-jilat?
W: Kami sih ngelarang, tapi kadang-kadang masih suka. Nah, waktu umur 19 bulan itu dokternya belum suruh terapi. Saya disuruh latih babyAm di rumah, kasih stimulus dan ajak main di rumah, sama dikasih vitamin B aja buat bantu babyAm konsentrasi kata dokternya. Pas balik lagi ke Hermina umur 20 bulan, baru disuruh terapi karena dilihat belum ada perkembangan yang signifikan.
T : Ooo, ini rujukannya ya (sambil baca kertas dari dokter Taslim): dilakukan terapi pada babyAm usia 20 bulan, delayed speech ke arah autisme..terus tanda tanya nih Bu tulisan dokternya, trus ada tulisan lagi PDD NOS, tanda tanya lagi.. mungkin dokternya juga belum yakin ya Bu, hehe. Mmm, Kalau boleh tahu, Ibu kenapa ga terapi di Hermina?
W: Kami sudah dengar bahwa di Hermina klinik tumbuh kembangnya sering penuh dan harus antri lama, dari segi jarak juga lebih jauh dari rumah sih..terus suka macet juga, jadi saya tanya sama dokternya apa ada klinik yang lain, nah disuruh ke sini deh (Anakku Kayuputih).
T : Ok..dulu babyAm ada fase merayap?
W: Ada kok, Bu.
T : Tengkurap dan duduk umur berapa?
W: Mmm, tengkurap itu babyAm telat, mungkin sekitar usia mau 6 bulan baru mulai tengkurap.. Kalau duduk usia 9 – 10 bulan.
T : Pola tidur babyAm sekarang seperti apa, Bu?
W: Kalau tengah malam gitu suka kebangun dia, biasanya sekitar jam 2 atau jam 3-an. Pokoknya kalau tidur malam babyAm minimal ada 1 kali terbangun.
T : Kalau bangun gitu dia ngapain?
W: Ngoceh.
T : Mmm, tidur lagi jam berapa?
W: Gak tentu sih, tapi biasanya 15 menit-an.
T : Ngoceh-nya ngigau sambil tidur gitu atau gimana?
W: Mmm, ngoceh biasa kaya tadi pas main (saat observasi).. Dalam kondisi udah bangun tidur kok, bukan mengigau.
T : Suka larut malam kah tidurnya?
W: Gak sih, alhamdulillah.. Paling kalau misalnya pas siang dia tidur kelamaan, malamnya baru tidur jam 8, kalau normalnya sih habis magrib juga udah tidur.
T : Waktu tidur banyak bergerak?
W: Oh iya, lasak banget.
T : Ada gak hal yang babyAm takuti?
W: Ini Bu, suara orang ngaji tapi yang dari radio atau rekaman, terutama kalau suaranya berat-berat dan ada gema-nya. Tapi kalau yang ngaji ganti jadi suara anak kecil sih gak apa-apa.
T : Ibu berhenti bekerja waktu babyAm umur berapa?
W: Mmm, pas umur 1 tahun.
T : Kalau babyAm diajak bertamu, reaksi dia bagaimana?
W: Kalau di tempat yang banyak orang dia akan nangis pas baru datang, tapi nanti juga diam sendiri terus ya udah dia gak perduli dan sibuk eksplorasi sendiri. Tapi dia kalau misalnya ada yang ajak main, ya dia cuek..tetap aja sibuk lari-larian main sendiri.
T : Kalau injak rumput atau pasir bagaimana, Bu?
W: Gak gimana-gimana, mau aja kok dia jalan tanpa sendal.
T : Kalau potong rambut?
W: Gak mau, harus dipaksa karena dia nangis dengar suara mesin cukur.
T : Kalau mandi?
W: Ooo, senang sekali. Kalau mau ajak babyAm mandi, saya nyanyi-nyanyiin dulu pas sambil isi air di bak mandinya, soalnya kalau dipanggil namanya kan dia gak nengok. Nah, kalau udah dengar suara air, babyAm akan langsung cepat-cepat ke kamar mandi. Pas mandi ya dia kaya bocah mandi pada umumnya deh kayanya, senang ciprat-ciprat air, happy lah pokoknya.
T : Potong kuku?
W: Gak mau, jadi dipotong kukunya cuma bisa waktu dia tidur. Tapi sih kalau misalnya lagi sadar (tidak tidur), kadang-kadang masih bisa diakalin gunting kukunya sambil dia nonton TV atau Youtube.
T : Pola makannya gimana, Bu?
W: Teratur, jam 7, jam 12, jam 5 sore. Menunya ya bubur bayi, kadang bikin sendiri, kadang yang instan. Udah bisa makan nasi juga, biasanya kalau siang diberikan menu nasi dan lauk ayam atau ikan. Sama ini: babyAm doyan banget ngemil.
T : Milih-milih gak makannya?
W: Gak sih..
T : Mau ngunyah?
W: Mau.
T : Dia kalau lapar minta makanan ke Ibu? Atau kalau pas jam-nya makan, ya udah disediain tanpa babyAm minta?
W: Oh, selalu disediakan sih. Tapi kadang-kadang misalnya kalau dia sedang lapar sekali, pas saya bikinin bubur tuh babyAm akan datang ke saya dan nungguin. Nah, kalau lagi ada maunya seperti itu, babyAm bisa tuh ikutin perintah sederhana: misalnya saya suruh tos atau salam. Tapi kalau lagi gak ada maunya mah saya dicuekin, hehe. 
T : Sikat gigi?
W: Belum bisa, pernah dicoba tapi belum mau anaknya.
T : Kalau di game arcade gitu, babyAm paling suka main apa?
W: Mmm, motor atau mobil-mobilan yang bisa goyang-goyang, Bu..
T : babyAm kalau sedang marah seperti apa?
W: Nangis sedu sedan, teriak-teriak.
T : Lempar barang-barang gak?
W: Ooo, gak kok..cuma teriak-teriak aja, marah.
T : Suka manjat-manjat?
W: Suka, naik kursi, sofa atau meja.
T : Suka lihat benda yang berputar?
W: Dulu sih sering banget, tapi sejak Prof Taslim kasih tau kalau itu salah satu gejala autisme..saya sama bapaknya jadi suka melarang, jadi ya sekarang memang gak dikasih lihat benda-benda berotasi gitu.
T : Ooo gitu, tapi dulu waktu lihat benda berputar apa dia bisa berjam-jam cuma liat aja, atau gimana?
W: Ooo, gak sih. Jadi misalnya kayak kipas angin nih, nanti kalau dia ngeh dia akan duduk liatin kipas angin tapi cepet bosan sih, terus dia akan lari-lari cari mainan yang lain dulu kalau sudah bosan. Nah, nantinya kalau ngeh lagi sama kipas, baru duduk lagi. Tapi gak yang dilihat terus-terusan sampai berjam-jam gitu, gak pernah sih.
T : Kalau menurut Ibu, babyAm itu gimana sih perkembangannya?
W: Saya sebenarnya sangat khawatir babyAm ada gangguan perkembangan, kayak dalam surat rujukan dokter Taslim kan juga dibilangnya PDD-NOS. Karena dalam keluarga kami memang ada sih riwayat autisme, dari pihak saya mau pun dari pihak suami.
T : Ooo begitu.. Kalau aktivitas sehari-hari babyAm gimana?
W: Ya di rumah aja, main sama saya atau sama neneknya. Mainan yang dia suka: susun-susun balok dan mobil-mobilan.
T : Suka keluar-keluar rumah gak?
W: Iya, gak bisa lihat pintu terbuka, mesti langsung lari keluar.
T : Ooo, tapi suka diajak jalan-jalan keliling komplek misalnya?
W: Oh, gak sih. Paling di teras rumah aja. Gak pernah keliling-keliling karena pasti dia lari, ngejernya capek, hehe.
T : Ooo, ok. Nah, ini saya jelaskan dulu ya Bu hasil observasi saya tadi lalu akan saya jelaskan kira-kira apa yang harus dilakukan di rumah untuk babyAm. Nanti kalau ada yang mau ditanya, langsung aja ya Bu.
W: Ooo iya Bu, ok.
T : Nah, kalau yang saya lihat babyAm itu kalau dipanggil kurang merespons, tapi masih on-off sih, Bu. Jadi kadang-kadang noleh, kadang-kadang tidak.
W: Iya, saya notice babyAm itu kalau misalnya lagi luar rumah, atau di tempat lain gitu ya lagi jalan-jalan, saya panggil namanya itu dia nengok. Tapi pas udah pulang ke rumah, di hari yang sama, dicoba panggil lagi, eh gak nengok.
T : Nah, iya makanya masih on-off. Kalau menurut saya memang babyAm perlu distimulasi. Tapi ada beberapa faktor sebenarnya yang membuat anak tidak responsif ketika dipanggil, salah satunya: memiliki macam-macam nama panggilannya. Seperti yang saya lihat saat observasi, Ibu panggil babyAm dengan beberapa nama panggilan. Hal ini bisa membuat anak bingung, jadi PR-nya nanti tolong mulai pakai satu nick name saja buat babyAm, ya.
W: Ooo..
T : Yang kedua, babyAm banyak bergerak, ya. Memang sebenarnya usia babyAm sekarang adalah usia balita sedang aktif-aktifnya, namun seharusnya sudah terarah dan bertujuan. Nah babyAm tadi belum fokus pada tujuannya, mudah teralihkan perhatiannya. Jadi gerakan yang muncul seperti tidak terarah.
W:  Ooo, ok.
T : Yang ketiga yang saya lihat, babyAm banyak babbling (mengoceh), hampir menyerupai kata-kata: hampir ya Bu.. Sebenarnya banyak babbling itu pertanda bagus, tapi karena cepat dan terlalu banyak jadinya seperti bahasa planet. Ini tolong di rumah, babyAm kalau nonton TV atau Youtube didampingi ya Bu, bukan cuma dikasih gadget-nya aja. Tapi kita jelaskan tentang apa yang dia tonton, dan mohon pakai bahasa Indonesia dulu.
W: Ooo begitu ya Bu, selama ini kasih yang bahasa Inggris, soalnya biasanya lebih lucu-lucu animasi-nya.
T : Iya Bu, kenapa pakai bahasa Indonesia dulu: karena otak anak itu seperti kamus kosong. Bagi anak-anak yang tidak mengalami keterlambatan bicara, mereka bisa memilah-milah mana bahasa yang dia bisa, mana yang tidak. Namun, bagi anak-anak yang memiliki gangguan perkembangan, mereka tidak bisa memilah dan memilih bahasa mana yang ingin digunakan, sehingga muncullah babbling yang seperti bahasa planet. Jadi, nanti kalau menonton animasi mulai alihkan ke tayangan berbahasa Indonesia ya Bu.
W: Hmm..(ngangguk-angguk)
T : Ok, habis itu kalau misalnya babyAm sedang babblingIbu jangan ikuti bahasa dia ya. Setiap babyAm ngoceh sesuatu, nanti tolong di-bahasakan ke babyAm sesuai dengan konteks dan diajarkan kata-kata yang benarnya.. Misalnya kalau dia ngoceh: sosiso sosiso sosisoo, jangan diartikan sosis padahal dia misalnya sedang pegang mobil-mobilan. Ibu harus translate sesuai konteks supaya babyAm meniru dan paham makna suatu kata. Jadi tugas Ibu harus mengartikan dan mengoreksi babbling-nya babyAm ya, Bu.
W: Ooo, ok.
T : Nah, lanjut yang ke-empat ya Bu: babyAm masih cuek sama teman sebaya, dan lebih berminat main dengan orang dewasa. Kenapa? Karena menurut anak-anak kan memang orang dewasa bisa mengerti apa yang dia mau, dan orang tua biasanya bisa provide. Sedangkan kalau sama yang seumuran kan harus ada take & give, sedangkan babyAm memang baru bisanya take melulu, jadilah dia kalau sama yang seumuran tidak mau bermain. 
W: Ooo..
T : Iya, jadi 4 hal ini yang tadi saya perhatikan dari babyAm dan inilah PR bagi Ibu di rumah dan juga bagi terapis di sini. Sama dokter Taslim disuruh terapi apa?
W: Mmm, ga bilang sih dokter-nya..beliau cuma bilang: babyAm harus terapi, tapi gak perlu terapi bicara dulu.
T : Ooo, oke. Ibu ada yang mau ditanyakan dulu?
W: Mmm, babyAm autistic kah Bu?
T : Hmm, saya bukan dokter Bu, jadi bukan part saya untuk diagnosis. Tapi kalau Ibu ingin tau opini saya: babyAm tadi memang ada trait ASD (autism spectrum disorder), tapi gak semuanya, menurut saya bukan kasus autisme berat, bahkan bisa jadi memang bukan autisme. Tapi, kalau tidak segera di-intervensi nanti takutnya babyAm semakin lambat perkembangannya dibanding anak-anak seusianya. Makanya nanti jadi tugas kami di sini untuk bantu Ibu memberi stimulus pada babyAm, untuk kejar keterlambatannya tersebut.
W: …… (nahan nangis, mata sudah berkaca-kaca)
T : Bu, kami di sini punya banyak kasus autisme berat dan nanti kalau babyAm sudah mulai terapi di sini, Ibu bisa lihat deh perbedaannya babyAm dengan anak-anak yang memang sudah di-diagnosa dengan autisme. Kalau menurut saya, babyAm punya peluang untuk progress dengan cepat agar bisa masuk ke terapi bicara dan persiapan sekolah, karena babyAm ini masih bisa interaksi dengan lingkungannya biar pun ogah-ogahan, kontak mata masih ada biar pun ga bertahan lama, babbling-nya ada, dan juga sekarang Ibu mau mulai intervensi saat usianya masih dini, belum 2 tahun kan?
W: Iya..
T : InsyaAllah keputusan Ibu untuk mulai terapi sejak dini bisa bantu babyAm belajar lebih cepat kok Bu (mencoba menenangkan saya yang kelihatan banget mau nangis)
W: ……
T : Memang kalau punya anak kecil seperti babyAm akan capek sih Bu, karena yang paling bisa cepat bantu babyAm itu ya Ibu-nya. Ibu harus main sama dia terus, gak cuma nemenin main, tapi ikut interaktif main dengan babyAm. Mau diagnosa-nya autisme, PDD-NOS, asperger, apa pun, anak-anak dengan gangguan perkembangan itu sangat butuh interaksi dengan orang-orang terdekatnya. Interaksi ini yang bisa bantu mereka mandiri Bu, dan kemandirian tersebut yang nanti bantu mereka survive ketika harus membaur dengan masyarakat.
W: Iya..
T : Dan yang paling penting sekarang bukan “kenapa bisa gini” tapi Ibu harus mikirin “ke depannya harus ngapain”, lebih kayak gitu sih Bu. Supaya babyAm bisa sama dengan anak-anak yang normal, sebenarnya sih saya ga suka ya dengan istilah anak normal karena apa sih definisi normal itu? Seberapa normal sih diri kita sendiri? Apa hak kita untuk menyatakan orang lain gak normal? Jadi menurut saya anak-anak (pasien) di klinik kami bukan anak abnormal ya Bu, anak-anak ini cuma terlambat perkembangannya dibanding anak-anak sebayanya.
W: (senyum).
T : (senyum balik), nah Bu, saya setuju dengan Prof Taslim yang bilang babyAm jangan terapi bicara dulu. Jenis terapi gangguan tumbuh kembang itu ada banyak banget, dan yang paling dasar adalah terapi Sensori Integrasi (SI). Observasi saya tadi menggunakan pendekatan SI ini ya Bu. Kenapa butuh terapi SI? Fungsi dari terapi ini adalah untuk meng-connect-kan sensor-sensor tubuh anak. Kenapa babyAm harus mulai dari SI? Karena tadi bisa kita lihat babyAm kordinasi antara sensorik satu dengan yang lain masih on-off. Nah, selama ini kan kita tahu panca indera atau sistem sensorik itu ada 5: pendengaran, penciuman, perasa (lidah), penglihatan, dan peraba (kulit).
W: Ok.
T : Nah, seperti yang tadi saya bilang: babyAm sistem sensoriknya ini belum connect. Sebagai contoh: pendengaran, secara organ babyAm telinganya tidak ada masalah, apa dia bisa mendengar? Bisa. Nah, tapi kok dipanggil namanya dia gak mau nengok? Ini yang dimaksud secara SI babyAm belum capable, dia tidak bisa milah bunyi dan suara mana yang harus ia respon. Contoh kedua: penglihatan, matanya gak ada masalah. Tapi ternyata babyAm kontak matanya gak bisa bertahan lama. Kalau main sesuatu gak bisa lihat dengan fokus lama-lama sampai selesai. Gitu ya Bu, jadi secara SI memang harus dirangsang dulu nih dengan terapi.
W: Ooo gitu.
T : Nah, sebenarnya sensorik manusia itu ada 2 lagi, Bu: kerja otot dan keseimbangan. Nah, kalau menurut saya setelah observasi tadi, yang 2 ini babyAm masih sangat kurang.
W: Ooo gitu?
T : Jadi babyAm itu banyak bergerak, tapi dia tidak tahu kapan harus stop, kapan harus fokus ke mainan. Ini contohnya seperti tadi Ibu bilang: babyAm kalau lihat pintu terbuka, pasti langsung lari keluar. Nah, ini tuh dia tau dia harus dan butuh bergerak karena dia punya banyak energi, tapi bergeraknya kemana? Gerakannya ini yang gak terarah, tidak bertujuan. Kerja otot dan keseimbangan ini ibaratnya satu paket ya bu, nah 2 hal ini yang babyAm itu istilah terapi-nya: masih seeking. Nah, ini ada yang namanya piramida belajar:
figure-1-the-pyramid-of-learningT : Kita bisa lihat di piramida ini, 7 sistem indera yang kita bahas ini ada di paling bawah. Sedangkan, babyAm indera-indera yang paling bawah ini masih belum optimal perkembangannya, jadi belum bisa kalau mau langsung dikasih terapi bicara. Sebagai contoh: bisa dilihat dari gambar ini, kemampuan bahasa itu (auditory language skill) ada di level ketiga dari puncak piramida. Untuk bisa belajar berbahasa, sensor auditory (pendengaran) yang ada di piramida yang bawah ini harus optimal dulu, itu kenapa babyAm butuh terapi SI dulu. 

W: Ooo.
T : Terapi anak berkebutuhan khusus itu memang harus segera, dalam arti dimulai dari sedini mungkin tapi juga gak bisa diburu-buru ya Bu. Jadi misalnya Ibu pengen anaknya bisa ngomong, tapi SI-nya di-skip, pengennya langsung TW (terapi wicara) ya gak bisa juga. Anggap piramida ini seperti bangun rumah, yang paling bawah ini (SI) adalah pondasinya, kita gak bisa bangun atap tetapi pondasinya belum kuat. Nanti yang ada, anaknya malah regress, bukan progress.
W: Ooo gitu.
T : Nah, paham ya Bu, sampai sini? babyAm butuh terapi SI dulu, nanti lanjut ABA, nah kalau misalnya di terapi SI dan ABA ini sudah bagus perkembangan babyAm, baru lanjut TW.
W: Mmm, terapi SI itu jadi kayak dibiarin main-main gitu aja?
T : Bukan dibiarkan main Bu, itu kan saya tadi observasi, jadi memang saya mau lihat babyAm aktifitasnya seperti apa. Nanti ketika sudah mulai terapi SI, terapis kami akan interaktif untuk pancing respons babyAm. Lalu kita juga akan ajarkan cara bermain yang benar, misalnya main perosotan itu naiknya dari mana sih, cara naiknya gimana? Kalau anaknya masih lari-larian, kita akan beri tugas seperti menyelesaikan permainan balok supaya gerakan yang muncul dari anak menjadi lebih bertujuan. Lalu kalau kordinasi ototnya belum bagus, kita akan kasih permainan yang bisa menguatkan otot-ototnya, tergantung nanti kordinasi otot mana yang kurang bagus, apakah tubuh bagian atas? apakah otot kaki? Terus misalnya main ayunan, kita akan pancing reaksinya apakah dia minta tolong diayunkan atau tidak, dan akan kita pancing supaya muncul bentuk komunikasi dari anaknya untuk minta tolong. Lalu dari segi pendengaran misalnya, kita akan biasakan anak mendengar namanya, lalu kita minta dia ikuti instruksi sederhana, tapi tidak dipaksa. InsyaAllah terapis kami di sini detil melihat kebutuhan anak asuhnya kok, Bu.
W: Ooo..
T : Sebenarnya kan anak kecil itu butuhnya bermain sambil belajar, dan sebenarnya gak masalah mainannya itu apa, karena kotak pensil aja bisa dijadikan mainan kalau ortu-nya kreatif. Tapi lebih ke mainnya seperti apa dan interaksi antara orang tua dan anaknya. Karena gini Bu, di sini kami setiap pasien maksimal cuma boleh terapi 2x dalam seminggu, karena pasiennya banyak. Setiap terapi cuma 1 jam, sedangkan bisa jadi anaknya itu butuh lebih dari itu. Nah, di rumah-lah sebenarnya yang paling penting di mana orang tua atau pengasuhnya yang lebih banyak waktu untuk bermain dengan anak. Peran terapis adalah membantu menunjukkan pada orang tua cara bermain dengan anak-anak untuk mengoptimalkan SI-nya itu. Jadi nanti kalau dikasih PR sama terapisnya, orang tua harus jalankan dengan disiplin di rumah agar anak bisa lebih cepat progress-nya.
W: Hmm (angguk-angguk)
T : Ok, saya akan coba berikan gambaran PR yang harus Ibu kasih ke babyAm ya, Bu. Pertama: Panggil babyAm dengan SATU nama panggilan saja dan harus konsisten.
Kedua: Ajak bermain dan bernyanyi bersama.
W: Oh ya, saya mau tanya dulu Bu. babyAm itu sekitar umur 15 bulan pernah kami ajak liburan ke Semarang. Nah, waktu itu kami pernah ajak jalan-jalan di mobil, dan saya nyanyikan lagu. Waktu itu babyAm niru loh Bu, nadanya, kata-katanya, niru bagus banget. Tapi waktu sudah selesai liburan, balik lagi ke rumah, saya nyanyikan lagu yang sama, eh kok gak mau niru lagi.. itu kenapa ya?
T : Ooo gitu, ok nanti saya jelaskan ya Bu. Saya jelaskan PR yang kedua dulu. Ajak bermain ini yang saya jelaskan tadi, bukan sekedar ditemenin main, tapi Ibu harus interaktif. Nyanyi juga harus heboh, dan kalau lagi nyanyi tunggu babyAm kasi reaksi dengan lagunya dulu, dia harus ada ekspresi dan respon untuk menyambung lagu ya Bu. Jangan langsung dinyanyiin dari awal sampai akhir oleh Ibu saja, tapi babyAm harus dipancing nyanyi juga. Dan Ibu harus perhatikan juga ya Bu, babyAm jangan sering dibiarkan asyik sendiri. Anak memang ada fase rest yang dia butuh sendiri, tapi ini gak boleh lama-lama, ya sekali istirahat maksimal 1 jam lah.
W: Ok.
T : Nah, PR yang ketiga dan ini berkaitan dengan pertanyaan Ibu: ajak babyAm beraktifitas outdoor. Aktifitas outdoor ini harus sering, Bu. Apa saja bentuk aktifitasnya?
1. Jalan keliling kompleks, bukan lari-larian di rumah aja. Nah ini fungsiya apa? Jadi gini Bu, waktu di Semarang kan kondisinya adalah “jalan-jalan”, lihat tempat baru dan suasana baru jadi panca inderanya bangkit semua dan syaraf-syaraf yang berkaitan dengan sensori-nya jadi connect semua. Makanya penting buat babyAm supaya beraktifitas outdoor, nah jalan keliling kompleks ini harus jalan kaki, bukan pakai stroller ya Bu. Aktifitas outdoor ini untuk stimulus otot-otot anak, jadi penting untuk keseimbangannya juga. Untuk frekuensinya setiap hari minimal 1x (pagi dan atau sore), durasi jalannya 30 menit.
2. Berenang, minimal 1x seminggu. Jalan-jalan di kolam yang dangkal, atau kalau mau di kolam yang agak dalam boleh pakai pelampung donat, jangan yang ada sanggahan (lobang) untuk kakinya ya Bu. Kenapa? kalau yang ada sanggahan kakinya, dia gak perlu bergerak banyak karena bisa duduk santai, sedangkan kita mau stimulus otot-otot kaki babyAm supaya lebih kuat lagi, karena kan babyAm juga kalau berdiri atau jalan masih suka oleng-oleng.
3. Rekreasi ke tempat wisata, kalau bisa setiap minggu, tapi kalau tidak boleh 2x dalam sebulan. Misalnya ke Ancol atau ke Taman Mini, tapi yang perlu diingat pas di tempat rekreasinya babyAm harus tetap jalan kaki ya Bu, jangan di stroller.
W: Wah, enak juga ya PR-nya jalan-jalan melulu, hehe.
T : Hehe, iya Bu, soalnya memang penting untuk sensori anak-anak. Nah, nanti setiap terapi akan ada PR-PR lain lagi dari terapisnya, yang akan disesuaikan dengan progress anak setiap minggu-nya. Kalau bisa usahakan disiplin kerjain PR-nya ya Bu.
W: InsyaAllah Bu.
T : Nah, untuk terapi babyAm saya sarankan mulai SI aja dulu 2x seminggu, nanti kita carikan jadwalnya segera.
W: Ooo, 1 macam aja ya? Kalau terapi okupasi itu apa Bu?
T : Okupasi terapi itu sebenarnya payung dari beberapa terapi lain, dan termasuk di bawah payungnya ini ya terapi SI. Mungkin lain waktu saya bisa jelaskan lebih detil ya Bu (sambil lihat jam, mungkin ada janji observasi anak-anak yang lain juga). Untuk sekarang yang saya lihat babyAm ya harus mulai dengan SI-nya dulu aja kita coba benerin.
W: Ooo, ok siap. Makasih banyak ya Bu.
T : Nah, kita ke bawah dulu ya Bu, cek jadwalnya.

Panjang ya kutipan interview-nya (itu pun sudah banyak yang saya cut, karena terlalu panjang). Namun memang saya ingin membantu menceritakan dengan detil kisah terapi babyAm, dengan harapan dapat membantu teman-teman sesama ortu, terutama mungkin bagi teman-teman yang curiga anaknya memiliki keterlambatan perkembangan. Cerita ini sih memang tidak scientific, lebih berdasarkan pengalaman keibuan saja, namun saya harap dapat memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai sesi observasi di klinik tumbuh kembang.

Good night, world 🙂
And I hope you’ll find this post as useful as it can be #feelinghopeful.

Advertisements