Sudah hampir 4 tahun saya menjadi seorang ibu, 2.5 tahun sebagai ibu rumah tangga (IRT). Bagi sahabat dan orang-orang terdekat yang mengenal kepribadian saya saat masih single, mereka akan melihat banyak perubahan dari diri saya yang cukup signifikan. Misalnya fakta bahwa saya menjadi gak asyik dan sok alim. Tapi penilaian ini bukan masalah, karena saya pribadi pun merasa demikian ;p

Motherhood changes me to my core, saya tidak pernah menyangka saya bisa menjadi seseorang yang sangat memikirkan orang lain, karena sebelum marriage semua hanya tentang saya, saya dan saya. Saya pun tidak menyangka saya bisa menjadi seorang ibu-ibu rumahan yang melakukan hal-hal rumahan secara rutin. Dan perlahan-lahan saya berubah menjadi emak-emak yang saya remehkan saat saya masih bekerja.
Ya, dulu ketika menjadi seorang wanita karir saya selalu berfikir:
pasti gampang jadi IRT, gak perlu mikirin target sales, gak perlu mikirin business review, gak perlu visit toko ribet-ribet fotoin produk diam-diam buat bikin compliance report, CUMA tinggal ngurus rumah. Sometimes you need to be in others’ shoes to really understand them. Tell you what:

For me, it is a lot of fun being a stay-at-home mother, but it’s no less stressful :’)
Tapi saya tidak bilang begini untuk mewakili IRT yang lain, I speak for myself. Dan saya pun tidak bilang bahwa semua wanita karir akan memandang sebelah mata terhadap IRT, ini murni berdasarkan perasaan dan sudut pandang saya saat masih menjadi seorang wanita karir. Dan kemampuan untuk tidak berbicara mewakili orang lain, serta lebih cermat sebelum menghakimi kehidupan orang lain, dan membiarkan orang lain hidup damai dengan cara mereka sendiri – adalah kemampuan yang baru bagi saya dan mulai berkembang sejak menjadi seorang ibu.

Setiap orang memiliki pribadi yang unik, kisah ibu yang satu berbeda dengan ibu yang lain, masing-masing anak punya cara bertumbuh-kembang yang berbeda tergantung kondisi keluarganya. Ini adalah perspektif baru bagi saya, ketika saya menjadi seorang wanita karir: I keep comparing myself to my colleagues, kalau dia bisa, gw juga pasti bisa — demikian pula sebaliknya, saya sangat mudah meremehkan orang lain, gw aja bisa kok lo gak? Alesan aja, bilang aja gak mau ngerjain. Yup, saya yang dulu adalah orang yang nyinyir (yaa sekarang pun masih, kadang-kadang kalau terpojok :p )(Bahkan terhadap orang-orang terdekat saya, tetap kena nyinyiran). Apalagi dulu punya kerjaan yang promising dengan gaji bagus, fasilitas bagus. Then came my 2nd pregnancy, and bham! God punished me in the best way, kehamilan kedua sering sakit-sakitan yang mengharuskan saya resign dari pekerjaan promising saya itu.

With no job, there goes self actualization.. There goes financial independence. Tapi kemudian saya belajar banyak hal, yang jauh lebih berharga daripada saldo rekening tabungan dan image wanita karir mandiri. Saya belajar bahwa ternyata cuma ngurus rumah sangatlah tidak mudah. Saya belajar bahwa cuma main sama bocah itu sangat menguras tenaga, it is actually quite a physical work, dan anak(-anaknya) semakin hari tambah besar dan berat. Saya belajar mengerti rasanya dikomentarin orang (dan atau saudara) tentang betapa useless-nya jenjang pendidikan yang telah ditempuh (dan dibiayai  ortu saya) serta karir saya di bidang sales karena saya sekarang cuma ibu rumah tangga. Yang paling penting adalah saya belajar mendengar, memilah, memilih apa yang perlu didengar, dipilah, dan dipilih dan apa yang hanya omongan destruktif dari orang-orang yang yaaa..”gak suka aja kamu happy”. To focus on what matters. What matters nya ini yang berbeda-beda bagi setiap ibu, we need to keep that in mind.


Ada ibu-ibu seperti saya, yang secara sukarela atau tidak memilih menjadi ibu rumahan dan 100% handle rumah dan anak-anak. Urusan nafkah seluruhnya menjadi tanggung jawab suami. Ada juga ibu-ibu wanita karir, yang memilih tetap memiliki penghasilan karena mungkin kalau cuma mengandalkan penghasilan suami, uangnya tidak cukup untuk menghidupi kebutuhan anak-istrinya. Atau bisa saja penghasilan suaminya sudah cukup untuk kebutuhan pokok, namun ingin menekuni pekerjaan yang ia sukai, serta penghasilannya bisa untuk dipakai belanja memanjakan diri tanpa merepotkan suami. You know, to get the sense of independent woman, that is a good feeling you know. Ada pula ibu-ibu pengusaha yang merasa bisa get the best of both world, berjualan atau berkarya di rumah sambil bisa tetap masak untuk suami dan main sama anak-anak. Here’s the thing, setiap opsi punya sunny and gloomy sides-nya masing-masing, tapi yang jelas secara alamiah seorang ibu akan selalu memperjuangkan yang terbaik untuk keluarganya.

Sangat konyol jika saya sebagai IRT merasa ibu yang ideal itu ya harus seperti saya, selalu di rumah mantengin anak-anak karena perkembangan anak-anaklah yang harusnya jadi prioritas utama seorang ibu. Konyol juga ketika seorang ibu pekerja menjadi arogan sebab bisa punya uang sendiri / karir bagus lalu memandang IRT sebagai ART bagi kaum lelaki yang sekedar terikat cinta dan akad nikah karena harusnya wanita modern bisa cari uang sendiri dan punya kendali lebih terhadap suaminya. Pula lucu ketika seorang mom-preuneur merasa sosok ibu ideal ya yang bisa cari duit sambil urus karena harusnya kebahagiaan keluarga dan aktualisasi diri mesti jalan berdampingan. Jadi ibu harusnya gini, harusnya gitu, harusnya gak begono, harusnya, harusnya, harusnya…terus akan ada harusnya-harusnya yang sebenarnya gak harus ketika kita merasa cara dan pilihan kita yang paling ideal, namun ketika kita sadar bahwa setiap ibu punya jalan ceritanya masing-masing…

Maka hanya akan ada 1 harusnya, harusnya kita saling menghargai dan mendukung sebagai sesama ibu secara khusus, dan sebagai perempuan secara umum. Instead of feeling superior and more ideal than others, why not try to be more supportive? Mungkin ini bukan post pertama tentang sesama perempuan sebaiknya berhenti membandingkan dan mulai menghargai satu sama lain, tapi pesan kebaikan memang seharusnya diulang-ulang bukan? Tidak masalah ketika ingin memperbaiki diri menjadi ibu yang lebih baik, lebih baik versi kita, sesuai kondisi keluarga kita.. Perbaikan diri ini bisa dimulai di rumah, belajar dari anak(-anak) kita dan suami. Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa paling oke, lebih benar, dan lebih baik dari mak-mak yang lain, padahal jelas-jelas lakinya aja beda, anak-anaknya apa lagi :p
So let’s us all learn to be more respectful, appreciative, and supportive and be the best mom in the world of our own family. And just be a happy & jealous-free mother 🙂 :3

PS: bukan berarti kita tidak boleh saling mengingatkan dan menasihati yah..for example when whe see a mother giving her kids some rocks as lunch instead of rice.. or intentionally giving coke instead of milk to a newborn. Then please interfere, maybe the mother can’t think straight for whatever reason..


Advertisements