Post 2 dari 4

(and it’s a long read 🙂 semua yang tercantum di sini berdasarkan pada materi presentasi, dan ditulis ulang sesuai pemahaman saya sebagai ortu yang awam yaa..diselingi juga beberapa opini pribadi here and there, hehe.. 😀 Semoga bermanfaat )

Post kali ini merupakan lanjutan post seminar ABK yang saya ikuti bulan Juli lalu. Saya akan share informasi tentang materi presentasi yang disampaikan oleh psikolog Rukiana Novianti, S.Psi, M.Psi, atau yang lebih suka dipanggil dengan nickname Bu Lola. Mungkin tidak lengkap isi presentasi dari awal sampai akhir ya.. Tapi saya coba bahas highlights dari isi presentasi dan info dari Bu Lola yang kiranya penting untuk orang tua ketahui, terutama bagi ortu yang memiliki ABK. Oh iya, buat informasi juga, seminar ini diadakan oleh Klub Belajar Sipatokkong, Makassar. Jika ada teman-teman Ayah-Bunda di daerah Makassar dan sekitarnya yang ingin dapat info seminar atau ingin menjadi relawan boleh cek social media Klub Belajar Sipatokkong ya 🙂

Bu Lola mengedukasi peserta seminar kemarin mengenai pengenalan pendidikan khusus untuk ABK. “Kebutuhan khusus” merupakan istilah yang definisinya amat luas: bisa terlihat secara jelas ciri-cirinya seperti penyandang difabel (kebutaan, tuna daksa), down syndrome, atau bisa juga yang secara fisik terlihat normal seperti speech delay, tuna rungu, hingga autism spectrum disorder (ASD). Contoh-contoh tersebut adalah contoh yang umum dikenal di masyarakat, terutama untuk yang tidak terlihat jelas cirinya biasanya orang tua yang awam (seperti saya) akan bilang: anak saya secara fisik sehat, tapi kemampuan komunikasinya terhambat. Taukah Ayah-Bunda ternyata ada pula kategori kebutuhan khusus yang secara fisik sehat, kemampuan kognitif bagus, kemampuan bersosialisasi baik, jadi ortunya tenang-tenang saja tidak merasa perlu memberikan pendidikan khusus karena anaknya “gak kenapa-kenapa kok”. Nah, contoh kebutuhan khusus tersebut adalah “slow learner”: gangguan pada kemampuan belajar yang umumnya berkaitan dengan IQ yang rendah (< 90). Karakteristik “slow learner” biasanya akan terlihat dan disadari ortu ketika masuk usia sekolah, di mana anak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran meski mungkin materinya dianggap mudah oleh guru atau murid yang lain.

Apapun potensi kebutuhan khusus yang dimiliki anak, para ahli sepakat bahwa deteksi dan atau diagnosis secara medis (jika memungkinkan) perlu dilakukan ortu sedini mungkin. Bagaimana metode deteksi sederhana yang bisa dilakukan orang tua? Di era informasi seperti sekarang, ortu dapat dengan mudah browsing mengenai “tugas perkembangan anak” di internet. Kalau pengalaman pribadi saya, Tugas Perkembangan Anak yang saya pakai adalah yang tertera di buku imunisasi anak saya seperti ini.

Jika anak sudah lolos semua tahapan perkembangannya, ortu juga sebaiknya mempertimbangkan test IQ terutama untuk anak usia 4 tahun ke atas, agar bisa antisipasi gangguan kemampuan belajar di masa depan. Namun jika di awal perkembangan ada tugas yang belum bisa dilakukan anak, misalnya pada kasus anak saya: di usia satu tahun belum muncul kontak mata, dipanggil nama tidak menengok, belum faham instruksi sederhana — nah Ayah-Bunda mungkin boleh pertimbangkan membawa anak observasi ke dokter anak atau klinik tumbuh kembang terdekat. (lebih lanjut tentang pengalaman observasi klik di sini)

Sebagai orang tua, kita harus peka dengan perkembangan anak. Ketika anak ternyata mengalami gangguan perkembangan, ortu adalah sandaran pertama mereka untuk mendapatkan pertolongan. Ada kutipan yang sangat saya sukai dari presentasi Bu Lola ini: menolong butuh kepedulian dan keahlian. Which I agree, ketika ada orang yang memiliki ilmu dan keahlian namun dia tidak peduli ya dia gak akan membantu. Ketika ada orang peduli, tapi gak ahli maka bisa jadi pertolongannya kurang efektif. Menurut saya, keahlian di sini maksudnya bukan berarti harus sekolah lagi belajar kedokteran atau psikologi, atau misalnya harus punya gelar ini itu, harus jadi terapis atau guru — tapi keahlian dalam kapasitas kita sebagai ortu adalah aktif mencari informasi, sadar sepenuhnya kita harus mengedukasi diri sendiri tentang tumbuh kembang anak agar kita tau ragam solusi apa yang bisa kita berikan pada anak untuk optimalkan tumbuh-kembangnya. Sekali lagi, di era informasi seperti sekarang, ortu generasi millennial tentu tidak kesulitan cari bahan bacaan, artikel, video, dan lain sebagainya: just one click away. Maka aktiflah membaca dan menyimak, demi anak-anak 🙂

Psikologi Perkembangan Anak

 

Di sesi ini, Bu Lola menjelaskan mengenai fenomena psikologis yang terjadi pada anak (0 – 12 tahun) sesuai dengan tahap perkembangannya. Materi yang disampaikan tidak melulu teori namun diselingi dengan beberapa contoh kasus yang pernah ditangani Bu Lola. Secara ringkas psikologi perkembangan meliputi:

I. Perkembangan kognitif

Secara umum untuk cek perkembangan kognitif bisa menggunakan “Tugas Perkembangan Anak”. Beberapa tahap perkembangan kognitif yang dijelaskan Bu Lola, yang menurut saya cukup penting antara lain:

0 – 2 tahun

kemampuan sensori motor harus bagus, meliputi meraba, menyentuh, menunjuk, mengambil mainan, mencapit, dsb. Itu kenapa pada usia ini jenis mainan yang disarankan adalah boneka yang bisa dipeluk, bantal buku yang kalau digenggam ada suara “kresek-kresek” dari plastik di dalamnya, baby teether, dan mainan lain yang bisa membantu optimalkan kerja sensori motor pada anak.

2 – 7 tahun

kemampuan pra-operasional anak berkembang pesat (meliputi kemampuan verbal, dapat menggambarkan dunia yang dilihat dengan kata dan gambar, kemampuan mengenali warna-warna, dsb). Keterlambatan bicara (speech delay) biasanya mulai dapat dideteksi pada usia ini, dan penyebabnya yang paling umum yang ditemui oleh Bu Lola adalah: sejak balita sudah mengenal GADGET :’)

(Sedikit kutipan “ceramah” ni dari Bu Lola, yang akhirnya menyentil saya dan membuat saya disiplin menegakkan no smartphone policy sejak pulang seminar ini..dan bagi anak-anak saya, saya rasa policy ini sangat berfaedah)

Bukannya anti dengan perkembangan jaman, dan juga belum tentu semua anak yang diberikan Youtube, atau sering di-anteng-kan pakai TV dari kecil akan mengalami speech delay, namun sudah banyak hasil riset yang menelaah bahwa penggunaan gadget pada usia dini lebih banyak dampak negative daripada positivenya. Terkadang anak itu mengalami keterlambatan atau gangguan perkembangan bukan hanya karena masalah medis, bukan karena gen, tetapi karena orang tua yang lalai. Ada kasus speech delay karena ternyata anaknya dari kecil gak dibiasakan mencoba makanan dengan berbagai tekstur, semua di-blender, semua dihaluskan, biar cepet makannya, gampang menelan..jadilah sensori oral motor anak gak berkembang dengan baik. Tapi kasus yang lebih sering adalah: anak nangis? Diemin pakai gadget. It’s a big NO, karena anak-anak bisa jadi pasif, tinggal nonton aja bengong depan layar..apalagi kalau ternyata anak tersebut punya potensi autis, ADHD, Asperger, atau gangguan perkembangan lainnya. Gadget pada ABK lebih sering melambatkan progress terapi, daripada mempercepat ya Ayah-Bunda :’)

Usia > 7 tahun

Diharapkan kemampuan kognitifnya sudah optimal dan siap untuk masuk dunia belajar (sekolah dasar). Penetapan aturan SD negeri menerima murid dengan minimal usia 7 tahun sebenarnya berkesesuaian dengan banyak hasil penelitian psikologi perkembangan yang menyatakan di bawah 7 tahun masih merupakan usia bermain anak. Pun jika ingin memberikan pendidikan formal, harus diajarkan sambil bermain, karena memang otak anak-anak di bawah 7 tahun secara alamiah masih lebih timpang pada sisi kreatifnya daripada sisi logika. Maka pada usia ini ortu harus lebih bijak melihat apakah anak memang sudah mau dan kira-kira mampu sekolah atau belum, karena trend-nya dari masa ke masa, sejak dulu kala hingga mungkin bila nanti (nyanyi dikit biar gak pusing baca post panjang ini :-p ), adalah para orang tua saling berlomba dan berbangga diri jika anaknya bisa cepat masuk SD.

II. Perkembangan psikososial

18 bulan – 3 tahun

Developing trust, anak belajar mengenali dan mempelajari orang-orang di sekitarnya: siapa yang bisa dipercaya, mana yang tidak? Mana orang yang membuat ia merasa aman, mana yang membuat takut? Di usia ini anak-anak mulai mengenali mana lingkungan keluarga yang mengasuh dan mengajak main, mana yang lingkungan asing yang dia harus waspada.

Sejak usia 1 tahun anak-anak juga sudah bisa diberikan konsep kemandirian, kadang anak manja itu bukan karena dia gak bisa, tetapi karena dia selalu dilayani. Sejak dini ortu harus bisa milah-milih rasa tega (bagi saya ini susah, karena saya gak tegaan (T_T) ), demi untuk kemandirian anak loh Ayah-Bunda. Contoh: tega suruh pakai baju sendiri, biarin aja lama pasang kancingnya yang penting anak kerjakan sendiri. Contoh lain: tega suruh makan sendiri, biarin aja berantakan, belepotan, yang penting anak belajar suap sendiri. Jadi emak-emak harus sabar, harus strong (se-setrong-setrongnya), gak apa Buibu tega-tegain dikit..buat kebaikan anak juga kok 🙂 Anak mandiri itu rasa percaya dirinya bagus, dan rasa percaya diri yang bagus akan membantu anak siap menghadapi dunia.

3 – 6 tahun

Masa eksplorasi kesalahan, bisa diberikan konsep benar-salah dan atau baik-buruk pada usia ini. Ortu jangan terlalu sering melarang atau menegur suatu kesalahan pada anak, dengan catatan: kesalahan tersebut tidak membahayakan keselamatan anak. Misalnya nih (ini contoh yang saya terapkan di rumah ya), ketika anak umur lagi suka manjat-manjat, segala meja, segala lemari, kursi, dan kawan-kawannya dipanjat, saya akan biarkan dulu sambil diawasi tentunya ya. Kalau misalnya manjatnya agak tinggi, dia pasti bingung mau turun bagaimana, nah masuk lah di situ saya turut campur: gak bisa turun kan? Kalau mau Ummi yang turunin bilang apa? Tolong.. (dua konsep yang diberi: jangan manjat tinggi-tinggi dan ajarkan cara meminta tolong yang baik).

Di usia ini pula juga anak bisa diperkenalkan dengan kegagalan, karena kalau sukses terus atau selalu dapat yang dia inginkan, bisa membuat muncul kepribadian yang ambisius namun tidak sehat di masa remaja atau dewasanya. Contoh kasus: ada anak baru lulus SMA di Makassar daftar kuliah. Selama masa sekolah selalu juara kelas, karena ortunya menekankan bahwa: ranking itu penting. Anak ini diterima di salah satu universitas unggulan di Bandung. Belum ada 2 semester, minta balik ke Makassar. Loh, why? Ternyata anak yang selalu juara kelas ini, sampai Bandung bertemu dengan teman-teman lain yang juga pintar-pintar, dan dia tidak ‘bersinar’ di antara teman-temannya itu. Dia kesal karena ambisi jadi yang paling pintar tidak terpenuhi, di lain pihak juga dia minder dengan kawan-kawan ini. Ortu sad? Of course 😦 Oleh karena itu, mendidik anak mesti bijak-bijak..ya tentu saja kita senang punya anak yang selalu sukses, tapi gagal itu bukan racun kok, kadang gagal itu dibutuhkan untuk memberikan pelajaran hidup bagaimana mengelola ekspektasi dan harapan.

Anak-anak yang berusia di bawah 6 tahun itu juga sangat sensitive, peka dengan gerak-gerik dan emosi ortu, serta tajam sekali ingatannya. Makaaa dari itu, ortu harus hati-hati berbicara dan berperilaku ketika berada di dekat anak. Berkaitan dengan ketajaman memori, hati-hati ketika menasihati atau memarahi anak! Ini penting, karena bisa jadi momen Anda marah-marah itu yang akan terus membekas di pikirannya hingga ia beranjak dewasa! Contoh kasus: anak rebut mainan dari saudaranya. Tips nasihati:

  • Jangan serta-merta membentak
  • Ajak ke ruangan lain, atau diajak menjauh dari saudaranya. Jangan dimarahi di depan saudaranya, apalagi di depan public. Nasihat tidak akan masuk, karena anak merasa dipermalukan (public humiliation). Catat ini ya Ayah-Bunda, ingat, dan amalkan! Betapa sering kita temui di mall atau di tempat umum ada ortu yang suka membentak, bahkan mencubit anaknya hanya karena: gak bisa diam :’) Jangan jadi ortu temperamen, usahakan semaksimal mungkin jangan pemarah ya.. #selfnote
  • Ketika menasihati lakukan kontak mata
  • Berikan contoh konkrit tentang mengapa perbuatannya salah, karena anak usia ini belum mengerti konsep abstrak

6 – 12 tahun

Mulai mengerti tentang kerajinan, ketekunan, dan superior-inferioritas dalam berkawan. Anak semakin banyak interaksi social dengan teman sebaya. Penting diingat ya Ayah-Bunda, anak-anak usia ini sering dianggap sudah mandiri dan jadi jarang dimanja dan diperhatikan ortu. Ya, secara kemampuan mengurus diri mungkin sudah mandiri, tapi mentalnya masih mental anak-anak yang tetap butuh disayang-sayang ortu. Ortu harus mulai bisa menjadi teman terbaik anak, orang yang paling pertama dan utama menceritakan masalah apa pun yang dihadapi anak di luar rumah. Jangan sampai anak mencari perhatian dari temannya karena ortu di rumah cuek, yang paling berbahaya adalah ketika ortu tidak tau apakah teman-teman anaknya baik atau tidak. Maka sekali lagi Ayah-Bunda, sempatkan quality time dengan anak sesering mungkin ya, terutama bagi anak-anak yang kedua ortunya bekerja di luar atau jarang ada di rumah.

Kira-kira demikian isi sharing ilmu parenting dari Bu Lola. Mohon maaf kalau kepanjangan ya, habis ternyata catatannya banyak 😀 Jika ada yang ingin dinyatakan dan atau ditanyakan, boleh langsung komen di bawah ya. Atau jika ingin diskusi boleh DM via Instagram saya @baladaiburumahtangga.

Semoga bermanfaat (^^)

Advertisements