Post 3 dari 4

(Semua yang tercantum di sini berdasarkan pada materi presentasi, dan ditulis ulang sesuai pemahaman saya sebagai ortu yang awam yaa..diselingi juga beberapa opini pribadi here and there, hehe.. 😀 Semoga bermanfaat )

Kali ini saya lanjutkan post berseri dari kegiatan Seminar Komunikasi ABK yang diadakan oleh Klub Belajar Sipatokkong Makassar. Materinya tentang non-speech oral motor exercise, atau kalau orang tua yang awam seperti saya biasanya sebut: Terapi Wicara (TW). Narasumber materi ini adalah Bu Putri Maretha Larasati, Amd. TW.. Seperti post sebelumnya, saya mungkin tidak bisa bahas full materi presentasi Bu Putri dari awal sampai akhir ya Ayah-Bunda, tapi fokus di highlights-nya aja ^^,
Semoga bermanfaat (^^,)

Ortu dengan ABK mungkin tidak asing dengan istilah terapi wicara (TW) dan sebagian besar ortu pasti berharap hasil dari TW = anaknya bisa bicara. Ternyata Ayah-Bunda, membuat anak bisa bicara itu hanyalah “bonus” dari TW, dan ternyata juga praktik TW yang umum dilakukan di berbagai klinik tumbuh kembang sifatnya malah non-bicara. Loh? Maksudnya gimana? Nah mari kita telaah lagi lebih dalam tentang teknik TW ini. Praktik TW yang umum digunakan saat ini sebenarnya merupakan latihan oral motor (otot & syaraf sensori pada bagian bibir, rahang, lidah, langit-langit, laring, dan otot pernafasan) yang tidak selalu melibatkan kegiatan berbicara atau menghasilkan suara (non-speech). Tujuan utama latihan oral motor adalah untuk memperbaiki fungsi sensori bagian oral sehingga dapat berfungsi dengan normal, dan jika oral motornya sudah berfungsi normal maka diharapkan dapat memudahkan anak untuk bicara. Latihan oral motor ini sebenarnya tidak hanya digunakan pada anak-anak yang mengalami kesulitan berbicara, tapi digunakan juga untuk terapi penyembuhan pasien stroke.

Ayah/Bunda, latihan oral motor ini bisa dikerjakan di rumah ya..yang penting ortu / pengasuhnya bisa sabar dan konsisten mengulangi dan mengajari anaknya. Kenapa saya sampaikan hal ini? Supaya ortu tidak terpaku mengandalkan sesi terapi yang mungkin cuma 1-2 jam dalam sehari. Ini hanya opini pribadi, tapi mungkin boleh direnungkan: tempat terapi itu bukan bengkel. Kadang ortu berfikir ketika anak memiliki masalah perkembangan, dimasukkan terapi, lalu kalau “gak ada progress-nya” yang disalahkan terapisnya :’) .. Sehari itu ada 24 jam: katakanlah anak-anak durasi tidurnya 8 jam, dia terapi misalnya 2 jam à ada 14 jam yang anak sama ortu / pengasuhnya, dan ortu harus cek lagi apa 14 jam ini dibantu lagi ulang terapi-nya di rumah? Kalau ternyata di rumah dibiarin main sendiri atau bahkan di-antengin lagi pakai gadget, ya wajar atuh Yah-Bun kalau progress-nya lama :’)

Kenapa juga saya sampaikan hal ini, supaya teman-teman ortu ABK yang mungkin anaknya belum bisa ikut TW (karena belum kebagian jadwal, atau rumahnya jauh dari klinik tumbuh kembang, atau karena masalah biaya, dan berbagai faktor lainnya) agar tetap semangat untuk bantu anak-anaknya di rumah, karena sesungguhnya dasar-dasar latihan oral motor ini simple banget (bagi ortunya), hanya butuh kesabaran untuk ulangi lagi dan lagi ajar anak-anaknya di rumah. Apa sajakah teknik latihan oral motor?

Menghisap

  1. Latih anak minum menggunakan sedotan.
  2. Mulai dari minuman yang encer (misal: air putih), lalu bertahap tingkatkan kekentalan minuman (misal: jus alpukat).
  3. Variasikan diameter sedotan, mulailah dengan sedotan yang kecil seperti sedotan air mineral.
  4. Jika anak susah diajak untuk mencoba minum dengan sedotan, coba rayu dengan menggunakan makanan yang disukai didekatkan ke bibirnya sambil mendekatkan sedotan. Atau bisa juga dengan dioleskan madu di ujung sedotan, supaya manis. Ya atau trik apapun yang bisa membuat anak senang dan mau mencoba menghisap minumnya.

Meniup

  1. Perhatikan posisi mulut ketika meniup dengan benar adalah: pipi gembung karena udara, lalu manyun membentuk huruf “u” à baru udara dikeluarkan.
  2. Berikan contoh tiupan di tangan anak, jika anak tidak mau lanjutkan no. 3
  3. Minta anak meniup kertas tisu, boleh juga sobekan tisu kecil-kecil ditaruh di piring, jika masih belum mau
  4. Latih tiup lilin atau tiup mainan bubble, jika masih belum mau
  5. Jangan menyerah! 😉 ulangi terus dengan semangat.. InsyaAllah pasti bisa kalau diulang tiap hari (“,)9
  6. Jika sudah bisa meniup, dilancarkan dengan bermain peluit.

Menggigit dan Mengunyah

  1. Variasikan jenis makanan: lunak, padat, garing, lembut, dsb. Jangan terus-menerus diberikan makanan yang lunak dan halus saja.
  2. Jenis makanan yang cocok untuk latihan mengunyah: wortel, roti, kacang, apel, biscuit, melon (atau buah-buahan yang cukup padat lainnya).
  3. Jangan lupa dipotong kecil-kecil dulu (bite size), biar gak keselek :’)

Menjilat

  1. Mulai dengan oles madu (bisa diganti yogurt, es krim, selai roti berbagai rasa, mayonnaise, saos tomat, dll) di bibir anak, lalu lihat apakah anak berusaha menjilatnya.
  2. Jika sudah bisa, tingkatkan latihan dengan menjilat permen lollipop atau dengan sendok yang dicelupkan ke madu. Sendok / permen digerakkan di depan bibir anak ke kiri dan ke kanan, lalu lihat apakah anak mau menjulurkan lidah untuk menjilatnya.

Posisi yang paling tepat untuk semua latihan ini adalah sambil duduk, atau jika anak belum baik posisi duduk atau belum dapat duduk sendiri maka dapat disenderkan ke badan ortunya. Kapan sebaiknya latihan oral motor dilakukan pada anak? Sebenarnya dari masa MPASI (≥6 bln), stimulasi oral motor sudah boleh diberikan untuk meminimalisir potensi gangguan oral motornya. Salah satu catatan penting dari presentasi Bu Putri ini:

Latihan sederhana ini penting untuk diterapkan Setiap Hari meski jika anak sudah bisa, untuk membantu ABK mempertahankan kinerja oral motor sehingga fungsi fisiologis oral motornya tetap optimal.

Kira-kira demikian seputar latihan oral motor. Jika ada yang ingin dinyatakan dan atau ditanyakan, boleh langsung komen di bawah ya. Atau jika ingin diskusi boleh DM via Instagram saya @baladaiburumahtangga.

Semoga manfaat dan bisa dipraktekkin di rumah ya ^^

Advertisements