Post 4 dari 4

(and it’s a long read 🙂 semua yang tercantum di sini berdasarkan pada materi presentasi, dan ditulis ulang sesuai pemahaman saya sebagai ortu yang awam yaa..diselingi juga beberapa opini pribadi here and there, hehe.. 😀 Semoga bermanfaat)

Alternatif Komunikasi pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Ini adalah post terakhir dari seri post seminar ABK yang dilaksanakan oleh Klub Belajar Sipatokkong. Saya akan share informasi tentang materi presentasi yang disampaikan oleh Bu Shinta Barasa, S.Psi. Sesi terakhir dari seminar komunikasi ABK ini merupakan sesi favorite saya: pertama karena pematerinya interaktif dan solutif; kedua karena materi seminarnya kebetulan makanan sehari-hari babyAm di klinik tumbuh kembang tempat ia terapi. Meski belum sepenuhnya disiplin menerapkan semua materi presentasi ini di rumah, namun materi Bu Shinta ini benar-benar membantu saya memahami ‘hal teknis’ terapi ABA yang harus saya ulang-ulang di rumah. Semoga Anda pun yang membaca post ini & mungkin memiliki ABK dapat merasakan manfaat yang sama (dan bisa lebih disiplin dari si penulis post ini tentunya, aamiin..hehe)

Bicara atau Komunikasi??

Bu Shinta membuka sesi dengan pertanyaan menarik:

Mana lebih penting: anak bisa berbicara atau bisa berkomunikasi?

Saya pribadi (dalam hati) menjawab: yang penting ya bisa komunikasi, dan ternyata banyak peserta seminar lainnya yang juga menjawab sama.

Lalu Bu Shinta tanya lagi:

Kenapa lebih penting komunikasi daripada bicara? Apa bedanya?

Dan masuklah ke pembahasan mengenai bahasa & komunikasi.

Apa itu “bahasa”? “Bahasa” (sansekerta) ~ artinya adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi satu sama lain menggunakan tanda (berupa kata mau pun gerakan seperti bahasa tubuh). Jadi bahasa hanya merupakan simbol, yang bisa dilakukan hanya oleh satu orang. Ketika simbol ini disampaikan pada orang lain, dan orang lain memahami informasi yang disampaikan melalui simbol tersebut, lalu informasi itu membuat dua orang (atau lebih) terhubungkan satu sama lain –> inilah “komunikasi”. Bicara merupakan bagian dari berbahasa secara verbal, hanya merupakan salah satu alat untuk berkomunikasi.

Lalu Bu Shinta bilang lagi:

Jadi kalau konsul ke dokter, pertanyaannya jangan salah..
Bukan: Dok, gimana ini: anak saya belum bisa bicara?

Tapi: Dok, gimana ini: anak saya belum berkomunikasi?

Karena anak yang belum berbicara bisa jadi sudah mampu berkomunikasi (menggunakan bahasa tubuh misalnya), demikian pula sebaliknya, anak yang bisa bicara belum tentu berkomunikasi dengan baik.

Menurut saya pesan moralnya di sini adalah: orang tua jangan terlalu fokus menekankan bahwa ABK harus segera bisa bicara, namun fokuslah untuk membantu optimalkan kemampuan komunikasi anak non-bicara, karena bisa jadi ABK lebih nyaman dengan bentuk komunikasi non-bicara tersebut. Bagaimana alternatif komunikasi yang dapat membantu ABK kita?

Lanjutlah kita ke teknis komunikasi ABK yang merupakan bagian dari terapi ABA, meliputi beberapa fase:

(catatan: materi ini isinya sangat ‘teknis’ dan mungkin ada detil-detil yang terlewat oleh saya sebagai orangtua yang awam. Jika ada yang mungkin kurang dimengerti, Ayah-Bunda bisa juga tanya ke para ahli (terapis/dokter/praktisi ABK), atau boleh cek soc-med peduli edukasi khusus asuhan Bu Shinta: Terapis Autisma (FB) dan @terapis.autisma (IG) )

COMPIC (communication pictures)

Sesuai namanya, ini adalah kumpulan gambar untuk berkomunikasi.

Panduan membuat COMPIC:

  • Gambar sederhana (hanya berupa outline)
  • Tidak berwarna (hitam-putih)
  • Boleh diberi kode warna, misal: hijau untuk kata benda, biru untuk kata kerja, dsb.

Fase COMPIC:

  • Mulai dengan mengajarkan anak menyamakan kartu COMPIC ke benda aslinya dan sebaliknya
  • Menyamakan kartu COMPIC ke foto benda dan sebaliknya
  • Membuat kalimat dengan kartu COMPIC
  • dst.

Penerapan di lapangan:

Supaya gampang, saya fotocopy COMPIC yang ada di tempat terapi lalu di-laminating. Saya minta saran juga dari terapisnya sebaiknya COMPIC mana dulu yang saya gunakan untuk anak saya, yah walau pun sih pada kenyataannya di rumah belum disiplin full saya pakai COMPIC setiap saat, tapi sebisa mungkin pas lagi ingat dan lagi bagus moodnya saya latih anak berkomunikasi dengan COMPIC.

PECS (Picture Exchange Communication Systems)

Lanjutan dari COMPIC adalah mengajarkan anak menukarkan kartu bergambar untuk mendapatkan keinginannya. Inilah yang dimaksud dengan picture exchange (pertukaran kartu (bergambar) )

Panduan membuat PECS:

  • Bisa berupa COMPIC
  • Boleh berupa foto
  • Boleh berwarna
  • Jika anak suka makanan tertentu, bisa juga berupa kertas yang ditempel bungkus makanan itu (misalnya bagian logo merek roti / biskuit)
  • (jadi ini bebas aja, yang penting berupa gambar yang bisa dimengerti anak)

Fase-fase PECS:

Fase I – Pertukaran kartu (butuh 2 orang asisten)

  • Anak meraih benda yg diinginkan, asisten pertama (terapis / ortu / pengasuh) lalu mengambil tangan anak dan diarahkan untuk menunjukkan kartu PECS sesuai dengan benda yg anak maksud.
  • Ketika anak sudah memegang kartu, asisten kedua memegang tangan anak dan mengajaknya memberikan kartu pada asisten pertama yang memberikan gesture tangan yang meminta (ini disebut prompt (bantuan) fisik karena anak masih dibantu dengan sentuhan untuk menukarkan kartu)
  • Asisten pertama menerima kartu dari anak, dan memberikan benda yang diminta sambil menyebut/melabel nama bendanya agar anak mengerti.


Fase II – Mengajarkan spontanitas (sudah bisa hanya dengan satu asisten)

  • Cari tau perbendaharaan reinforcement (benda / kegiatan yang diminati anak)
  • Ciptakan kemungkinan anak agar meminta reinforcement tersebut, misal: ketika ingin keluar kelas harus pakai sepatu dulu, maka sembunyikan sepatu dan arahkan anak menggunakan PECS (bergambar sepatu) untuk meminta sepatunya.
  • Kurangi prompt fisik
  • Ketika anak berhasil memberikan kartu yang sesuai, maka berikan reinforcement yang anak maksud (sambil di-label nama bendanya), dan jangan lupa memuji usaha anak.

Fase III – Diskriminasi

  • Asisten menyiapkan 2 kartu PECS,satu benda yang sangat disukai anak dan yang lainnya benda yang tidak disukainya.
  • Asisten menunjukkan kartu satu per satu pada anak.
  • Tunggu hingga anak mengambil kartu yg disukai, dan memberikannya pada asisten.
  • Jika anak berhasil membawa kartu yang benar, langsung berikan benda aslinya (sambil di-label), dan jangan lupa memuji usaha anak.

Fase IV – Membuat kalimat.

  • Asisten memulai dengan frasa: Saya mau…..
  • Biarkan anak menunjuk PECS tertentu (benda / kegiatan yang anak inginkan – atau asisten inginkan, misalnya ketika ingin melatih toilet training, maka asisten boleh mengarahkan anak mengambil PECS gambar toilet)
  • Selalu cek respon anak, jika berhasil memberi PECS sesuai instruksi maka berikan reinforcement yang diminta (sambil di-labeli), dan jangan lupa memuji usaha anak.
  • Jika anak semakin baik responnya, maka latihlah PECS menggunakan kalimat hingga 20 macam situasi (benda / kegiatan)

Fase V – Merespons pertanyaaan
Melatih anak untuk memberikan respon atas pertanyaan dengan bantuan,hingga anak bisa merespon secara mandiri.

  • Asisten memberikan pertanyaan (misal: mana bola?), lalu bari bantuan dengan menunjukkan kartu PECS pada anak…dan tunggu respon anak.
  • Asisten mengulang pertanyaan, tunda bantuan menunjuk, jika anak bingung baru asisten bantu tunjukkan PECS yang diminta.
  • Asisten mengulang pertanyaan, jangan berikan bantuan (untuk menunjuk PECS) sama sekali…dan lihat spontanitas anak apakah mulai mengerti untuk langsung memberikan PECS (sesuai benda yg ditanya) untuk ditukarkan pada asisten.
  • Jika anak berhasil, berikan bendanya (sambil di-label) dan jangan lupa memuji usaha anak.

Fase VI – Merespon & memberikan komentar.

  • Berikan ragam pertanyaan dan lihat respon anak apakah mampu menukar / menunjuk kartu sesuai dengan pertanyaan.
  • Contoh pertanyaan:

Apa yg kamu lihat? Apa yg kamu mau? Apa yg kamu punya? Apa yg kamu bawa? Apa yg kamu dengar? Ini/itu apa?

  • Setiap anak berhasil membawa PECS, langsung diberikan reinforcement yg dimaksud (sambil di-label)
  • Jangan lupa memuji usaha anak.

Kenapa sih selalu diingatkan untuk memuji usaha anak (dan ini tidak hanya berlaku untuk ABK loh ya)? Ya agar anak memiliki rasa percaya diri yang baik. Lebih-lebih pada ABK, fear of failure (rasa takut akan kegagalan) mereka amat tinggi, dan bisa membuat ABK mudah stress. Oleh sebab itu, penting memupuk rasa percaya dirinya dengan pujian ketika anak berhasil melakukan sesuatu.

Penerapan di lapangan:

PECS anak saya disiplinnya masih hanya di tempat terapi :’) , kalau di rumah belum sepenuhnya saya ulang-ulang kecuali satu step: memuji anak ketika dia berhasil mengikuti instruksi yang saya berikan (meski lebih banyak instruksi auditori (hanya memberi instruksi lisan tanpa pakai gambar PECS (visual)). But I’m trying and will always try to discipline myself more, hop hop (^^)9. Nah Ayah-Bunda yg baca post ini, semangat ya, semoga bisa disiplin & konsisten melatih fase PECS-nya.

Mand-ing
Definisi: (dari kata demand) meminta sesuatu karena menginginkannya.

Latih anak untuk meminta hal yang diinginkan (makan, minum, perhatian, mainan, kegiatan yang disukai, dsb)

Contoh:

Ajar bilang ‘nasi’ ketika dia lapar.

Ajar bilang ‘stop’ ketika kita gelitik dia.

Ajar bilang ‘ayun’ ketika dia ingin bermain ayunan.

Jadi kuncinya kita ajarkan anak meminta dengan bicara ketika dia membutuhkan / menginginkan sesuatu.

Penerapan di lapangan:

Lebih disiplin ini daripada pakai PECS, karena saya di rumah cenderung menyukai kasih instruksi auditori pada anak. Biarpun sih anak saya gak selalu bisa mengulang kata-kata yang saya ajarkan, tapi tetap dilanjut setiap hari ajarkan manding.

Tact-ing
Definisi: melabel (menyebutkan nama) sesuatu hal karena ada pengaruh rangsangan dari luar (melihat, membaui, teringat akan sesuatu, mendengar, dsb)

Contoh:

Ketika anak melihat kucing – ajar label “KUCING”

Ketika anak berlari-lari – label “CAPEK”

Ketika anak melihat ayahnya pulang kerja – label “AYAH”

Ketika anak melihat warna langit – label “BIRU”

Ketika anak mendengar petasan – label “BERISIK”

Ketika anak buang angin – label “BAU”

Ketika anak melihat adiknya menangis – label “SEDIH”

Penerapan di lapangan:

Sama seperti manding, ini mungkin lebih sering saya terapkan kalau di rumah, bahkan sering banget…karena sekalian ajarin adiknya (yg tidak berkebutuhan khusus) yg berusia 2 tahun dan memang lagi senang-senangnya meniru saya ketika me-label sesuatu. Jadi Alhamdulillah, babyAm sekalian belajar bareng adiknya (^^)

Kira-kira itu garis besar materi Bu Shinta. Jika mungkin ingin mencari video tentang teknik-teknik terapi ini, bisa cek di Youtube dengan keyword seperti sub-judul fase-fase ABA yang tercantum di post ini. Atau boleh cek soc-med lembaga / perorangan penggiat edukasi khusus untuk ABK seperti Rumah Autis, Klub Belajar Sipatokkong, dan Terapis Autisma.

Hope you enjoy this long post!
Semoga bermanfaat (^^)

Advertisements