#Selflove nampaknya tema yang sedang digandrungi mamah-muda millennial, seperti yang pernah saya baca di Tabloid Nova.. Kenapa ya kira-kira? Bagi saya pribadi sebagai emak-emak millennial (meski tak begitu muda lagi), karena topik ini penting banget biar ibu-ibu tetap waras, hehe. Ketika menjadi seorang ibu, secara alamiah naluri kita untuk mengedepankan kebutuhan orang lain menjadi begitu meledak-ledak hingga kita lupa mencintai diri sendiri, kita lupa mengedepankan kebutuhan diri sendiri. Lebai ya kedengarannya? Tapi begitulah kondisi realitanya, setidaknya realita bagi saya. Belum lagi ditambah tantangan era digital zaman now sis! Semua orang berlomba nge-post gaya parenting sempurna paripurna membahana (versi dia) beserta netijennya yang bisa kapan pun merusak mood kamu dengan nyinyirannya :’)

Membuat kamu merasa bersalah saat gak punya waktu masak nugget yang homemade tanpa MSG & memilih pakai nugget yang dibeli di mini market terdekat. Membuat kamu merasa gak becus karena kamu stay-at-home mom tapi gak bisa masak & paling gak update harga sayur-mayur & lauk pauk sebab kamu lebih milih catering. Membuat kamu merasa jadi ibu terburuk di dunia, karena kamu seorang working mom yang gak bisa menuhin stok ASIP sebab produksi ASI kamu sedikit meski sudah minum berbagai macam booster, tapi menurut netijen kamu cuma malas & lebih rela kasih sufor aja. These kind of pressures are really REALLY not good for your mind & mental.

Sebagai seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus (ABK), saya sempat berfikir bahwa saya aman dari penghakiman semacam itu. Sejak saya menjadi orang tua ABK, saya pribadi berubah menjadi orang yang tidak mudah menghakimi orang lain, karena saya tau persis bahwa everything is not always as it seem. Ketika seorang anak tantrum di tempat umum misalnya, saya menjadi lebih simpati karena bisa jadi anaknya berkebutuhan khusus, bisa jadi sang anak sedang merasa terlalu banyak sensori dari lingkungannya yang membuatnya tidak nyaman sedangkan ia tidak bisa menyatakan perasaannya sehingga muncullah tantrum. Ketika seorang anak terlihat asik bermain gadget saat ada acara keluarga, saya bisa faham mungkin sang ibu takut anaknya lari-larian dan menabrak barang atau orang di sekitarnya tanpa mengerti cara meminta maaf. Saya menjadi lebih berhati-hati dalam mengomentari orang tua lain, karena saya tidak tau kondisi macam apa yang dia hadapi dalam keluarganya..saya tidak tau kondisi anaknya..I simply don’t know their fight, just as much as they don’t know mine. Tapi ternyata, ortu dengan ABK yang nyinyir & tetap suka menghakimi ortu lain? Ada juga….haha #ketawapasrah. Ortu dengan ABK yang suka membanding-bandingkan? Ada banget. Cuma beda bentuknya aja, kalau ada ortu ABK yang macam ini biasanya dia membandingkan metode terapi, tempat terapi, jenis diet, disiplin gak main gadget, dsb. Tapi benang merahnya, baik ortu dengan ABK mau pun ortu dengan anak tipikal, ada kecenderungan berpikir: CARA SAYA YANG TERBAIK, CARA YANG LAIN…SALAH. #sedih

Namun saya bersyukur bertemu dengan ortu-ortu atau komentator seperti ini, ada nilai kebijaksanaan yang bisa saya petik dari nyinyirannya bahwa pada akhirnya keputusan ada di tangan kita sebagai yang dikomentarin: membiarkan nyinyirannya memengaruhi kita, ya atau cuekin. Apapun yang kita perbuat, akan selalu ada yang gak setuju, yang gak suka, bahkan yang membenci…so, why bother them? Saya belajar bahwa penilaian mereka terhadap saya, tidak mendefinisikan siapa saya. Komentar orang terhadap kita, tidak membuat tanggung jawab kita sebagai ibu berkurang, tidak membuat kita menjadi ibu yang tidak baik hanya karena kita gak lulus ASI eksklusif karena kondisi ASI kita yang kurang bernutrisi, tidak menjadikan kita ibu yang buruk karena memberi gadget di tempat umum supaya anak anteng (ya daripada dia lari-larian terus nabrak orang, yang salah kan tetap ibunya kalau ada kaca toko pecah karena anak larinya gak bisa dikontrol), mereka hanya bisa berkomentar. Dan dari situ saya menyadari, bahwa saya memang bukan ibu yang sempurna tapi #ILoveMyImperfections, karena ketidaksempurnaan memicu saya untuk selalu memperbaiki diri dan menjadi pengingat diri supaya gak sombong. Di akhir hari saya menyadari, menjadi ibu yang tidak sempurna bukan berarti kita menjadi tidak bertanggung jawab, tidak sempurna bukan berarti kita tidak baik, karena ibu yang baik adalah ibu yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan lahir-batin keluarganya sesuai dengan kemampuannya,dan bukan sesuai ekspektasi orang-orang (lebih-lebih ekspektasi netijen random, haeh). Dan yang penting diinggat, ketidaksempurnaan tidak boleh menghalangi kita menjadi ibu yang bahagia.

Dan salah satu cara bahagia adalah memiliki Me-Time alias waktu untuk diri sendiri. Setuju dong ya jadi ibu-ibu waktunya terkuras mikirin kebutuhan orang lain, dan ini gak sehat sis. Kita harus punya me-time meski hanya #5MenitAja setiap harinya. Otak dan hati kita butuh rehat supaya bisa fokus lagi ngurusin keluarga, supaya gak stress, supaya…tetep waras. Kalau saya sendiri sukanya baca yang ringan-ringan, atau main game permen yang punya level tak berujung itu loh..meski hanya #5menitAja. Oh ya buat sesama ibu-ibu kalau mau baca yang ringan, relatable buat emak-emak, dan insyaAllah bikin happy, ku recomm banget baca Komik Persatuan Ibu-Ibu! Komik ini jadi salah satu hiburan singkat buat saya kalau butuh me-time. Dan isinya bagus banget, bikin para emak-emak merasa gak sendirian dalam ketidaksempurnaannya. Dan buku ini juga yang mengajari saya bahwa pada akhir hari, yang peling penting adalah menjadi bahagia dengan segala kelebihan & kekurangan diri ini.

Jadi ibuk-ibuk, semangat! Biarlah orang berkata apa, selama kita tau tanggung jawab kita maka hiraukan saja komentar-komentar destruktif, jangan diambil hati, & stay happy no matter what ❤

Advertisements