Bismillaah..

Di penghujung Ramadhan saya tersibukkan dengan berita Covid (lagi). Jadi suka marah-marah, terutama bagi pemirsa FB yang kok kaya ngeremehin banget pandemi ini (karena ya kerabat saya lebih banyak yang main FB daripada IG). Jujur saja saya juga lelah koar-koar soal covid, tapi percayalah ini upaya terakhir saya untuk memberikan nasihat..dan tujuan utamanya bukan untuk Anda, tapi UNTUK MENYELAMATKAN DIRI SAYA KELAK DI AKHIRAT. (wooooh berat amat bawa-bawa akhirat wien?!)

Justru #covid19 ini menyadarkan saya bahwa akhirat bagi saya mungkin lebih dekat dari yang dibayangkan, bukankah kita semua akan mengalami akhir di dunia dan itu adalah kematian? Dan…sekarang lagi wabah, banyak orang meninggal di waktu yg bersamaan. GAK PEDULI TUA ATAU MUDA LOH, statistiknya mungkin lebih banyak korban lansia, tapi bukankah ada juga anak kecil yg meninggal? Ada juga yg meninggal di usia produktif karena covid-19? Jadi bagaimana mungkin saya tidak bawa akhirat? Bukankah sekarang kita sedang diintai? Virus ini sudah menyebar begitu cepatnya, begitu masifnya, gak pandang bulu, gak kenal liburan, gak peduli status sosial? Apa Anda begitu yakin diri Anda aman dari wabah ini? Aman dari kematian?
Maka semua unggahan saya yang bersifat mengingatkan soal pandemi, adalah bentuk pertanggungjawaban saya untuk akhirat: ya Tuhan, saya sudah berusaha menjaga diri & saya sudah ingatkan keluarga/kerabat saya. Ampunkan hamba ya Allah, Jangan hukum saya atas hati yang tidak bisa saya ketuk, atas hal yang tidak mampu saya lakukan.

kusta (maksudnya “virus”) corona, karya Aisyah (5th)

Secara pribadi saya ingin minta maaf jika setiap postingan saya tentang pandemi, menyinggung perasaan Anda. Juga jika nanti saya tidak berkeliling ketika lebaran, enggan menerima tamu, saya mohon dapat dimaafkan. Tidak ada masalah personal di sini, saya tidak berkeliling lebaran bukan karena tidak suka sama orang..tapi ya ini bentuk ikhtiar saya menghindari bala corona. Sesungguhnya saya bisa pahami mereka yang masih anggap remeh wabah ini ya, karena sebelum virus ini sampai ke Indonesia..saya pun meremehkan. Saya fikir: nanti juga usai, saya gak bakal kena, ah ini karena tekanan global aja jadi Indonesia umumkan akhirnya ada pasien covid di sini. Dulu saya juga meremehkan sedemikian rupa, sampai saya mengikuti berita covid-19 di Italia. Barulah. Saya. Paranoid… Dan sekarang, melihat betapa rumitnya masalah pandemi ini bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, rasanya saya perlu menasihati diri sendiri untuk SABDAR; sabar dan sadar.

SABAR dengan segala dampak pandemi yang membuat keluarga dan masyarakat terpecah..ada yang masih tidak peduli dengan protokol kesehatan, karena ya urusan perut lebih penting. Ada yg jadi “lebai” banget dikit-dikit suruh mandi, dikit-dikit suruh cuci tangan atas nama memutus rantai penularan covid-19. Sabar dengan berbagai keputusan pemerintah yang bikin (saya pribadi) bingung, tapi ya namanya cuma rakyat jelata kan..daripada capek makan hoax, mendingan banyak-banyak doain para penguasa & pembuat kebijakan yaa.

meme ini beredar di WhatsApp group, tidak saya ketahui sumber aslinya

Juga saya harus SADAR, sadar gak semua orang punya prioritas yang sama dengan kita yang bisa tetap #dirumahaja. Sadar bahwa isi kepala orang beda-beda, kebutuhannya juga beda-beda..ada yang lebih butuh uang daripada sehat, jadi ya bukan urusan dia untuk mutus mata rantai apalah itu. Sadar bahwa ada warga kurang mampu yang pengen banget gak mudik, tapi gak ada opsi lain buat dia kecuali pulang kampung karena di perantauan yaa dia gak tau mau makan apa. Namanya dan KK-nya tidak terdata sebagai penerima bansos, saat di sisi lain ibukota ada warga yang sampai berkali-kali terdata menerima bansos padahal dia bukan orang susah ekonomi. Sadar bahwa kita mesti benar-benar jaga diri & keluarga sendiri di masa sulit ini, tidak bisa kita mengandalkan negara (saja), karena para pemimpin negeri ini sudah kepayahan dan COBALAH UNTUK SELALU BERBAIK SANGKA bahwa mereka tau apa yang mereka lakukan untuk rakyatnya.

Sabar dan sadar bahwa mungkin nasihat ini gak akan digubris, tapi tetap harus disampaikan. Sabar dan sadar untuk tetap jalani hidup dengan waswas akan bahaya virus ini, entah sampai kapan. Sabar dan sadar untuk selalu istigfar karena yang saya yakini, bencana itu hadir karena dosa hamba-Nya. Yang saya yakini Allah Maha Melihat siapa yang berupaya dan siapa yang sengaja zhalim di masa pandemi. Sabar dan sadar berikhtiar, berdoa, dan membantu sesama. Perhatikan mereka yang masih kerabat, pastikan tidak ada keluarga yg kesusahan tapi kita tidak sadar, cek kondisi tetangga siapa tau ada yang sedang kesulitan. Sabar dan sadar bahwa sesulit apa pun, kondisi payah ini pasti akan ada akhirnya. Meski segala pemberitaan tentang covid-19 membuat  akal jadi pesimis, tapi hati harus tetap optimis. HARUS (“.)9

Jangan berputus asa dari rahmat Allah, baru berapa bulan di rumah? 2? 3? lalu kita mengeluh betapa susahnya hidup.. bukankah 9 bulan sebelumnya Allah berikan banyak kenikmatan (yang mungkin lupa kita syukuri)? Sabar dan sadar untuk bertahan dulu di rumah ya teman-teman, apa hati kita beneran dan sungguhan tega pada para tenaga kesehatan yg sedang gedebak-gedebuk di luar sana menghadapi pagebluk? Haruskah kita terkena penyakitnya dulu baru kita tersadar dan terpaksa bersabar??? Wal’iyadzubillaah, semoga tidak demikian adanya.

Semoga tulisan panjang lebar ini bisa bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Dan sekali lagi saya tekankan, dan harapkan bahwa tulisan ini dapat menjadi hujjah bagi saya di hadapan Allah kelak bahwa saya sudah kerahkan semua platform yg saya miliki untuk menasihati setiap hati orang-orang (yg saya kenal) yang masih “ngeyelan”..bahwa sudah saya upayakan semua cara yang saya mampu untuk menasihati, namun tetap hanya Allah juga yg mampu mengubah pikiran dan hati manusia, kan?

#loveinthetimesofcorona #helpyourselffirstbeforehelpingothers #flattenthecurve #pandemic2020