Ini kisah kami beberapa pekan lalu. Bagi yang masih bergelut dengan COVID-19, semoga diberikan kesembuhan dan kesabaran menghadapi segala kerepotan, kesusahan, dan kegalauan selama isolasi. Bagi yang sudah kehilangan orang yang dicintai karena COVID-19, semoga Allah berikan kekuatan dan kesabaran merelakan kepergian mereka. Bagi yang belum pernah berkutat dengan #COVID19? Jangan sampai kena ya..mohon jaga diri dan jaga keselamatan orang-orang di sekitar kita dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan. Oke lah tidak mau mikirin wabah, tapi please, jangan meremehkan juga… Lebih-lebih jika masih ada keharusan bekerja atau beraktivitas di luar rumah. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Day 1 Termakan Stigma

14 Agustus, suami masih dapat jadwal masuk kantor. 16 Agustus, kami masih ke rumah ortu saya di Bogor. 17 Agustus, suami mulai tidak enak badan. 18 dan 19 Agustus, demam disertai batuk. Demam hanya dua hari, dan sebelum masa wabah kan demam adalah hal biasa, jadi ketika demamnya turun saya sudah lega. Namun, muncul gejala lain: anosmia atau kehilangan indera penciuman. Badan semuanya sehat, tidak demam, batuk sudah reda, tidak pilek, tapi tidak bisa menyium aroma apa pun. Maka tanggal 22 saya bertanya pada seorang teman yang juga seorang dokter melalui WA, apakah kami perlu khawatir? Jawabannya: Suami saya harus segera swab. Bukan rapid, karena rapid tidak untuk diagnosis.

Dari apa yang saya baca di berbagai lini media, beberapa kali sudah terjadi. Hasil rapid reaktif namun ternyata swab-nya negatif COVID, demikian pula sebaliknya rapidnya non-reaktif namun ternyata positif COVID. Jadi jika ingin mendapat diagnosa, lebih baik langsung saja swab. Akhirnya kami mencari jadwal swab dan dapat di tanggal 24 Agustus. Sebenarnya hampir kami batalkan swab, karena suami merasa badan sudah sehat. Saat swab pun, suami saya termasuk orang yang terlihat sangat sehat di rumah sakit. Tanggal 26 Agustus suami ditelepon RS dan hasil swabnya terkonfirmasi positif COVID-19. Qadarullah wamasyaa-afa’al, Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal :’)

Yang membuat saya gusar adalah apakah saya harus lapor? Iklan layanan masyarakat yang menunjukkan tetangga akan mendukung dan membantu kita jika terkena COVID-19 tidak membuat kami berprasangka demikian di dunia nyata. Tentu saja kami takut lapor, bagaimana jika jadi omongan? Bagaimana jika dikucilkan? Bagaimana jika disalahkan sebagai penyebar virus? Meskipun sejak demam, suami tidak pernah berinteraksi dengan tetangga. Ketika ada acara kumpul 17-an pun kami memang tidak datang. Ketika dapat hasil swab, yang langsung suami kabari adalah ortu saya dan HRD kantor suami, karena sebelum demam kami ke tempat ortu dan suami masih masuk kerja di mana ada interaksi dengan pegawai lain. Ternyata di kantor memang sudah ada kolega yang juga demam dan di-swab. Untuk lingkungan tetangga, kami khawatir dengan responnya, kami takut akan membuat panik. Apalagi kami hitungannya di sini warga baru, baru setahun tinggal di sini. Akhirnya kami diam saja, dan melanjutkan isolasi mandiri di rumah.

Bisa isolasi mandiri di rumah adalah hal yang saya syukuri. Dengan segala keribetan harus menyiapkan ruangan sendiri di belakang (ribet karena rumah saya selalu berantakan oleh kegiatan anak-anak, hehe). Tidak bisa saya bayangkan jika suami harus isolasi di RS, atau bila beliau mengalami gejala berat. Saya termasuk pemerhati berita COVID-19, dan menyimak berita anak yang tidak bisa melihat jenazah ayahnya karena COVID-19 membuat saya patah hati. Namun, empati memang akan lebih terasah jika sudah mengalami sendiri. Ternyata begini ribetnya isolasi mandiri.. (ribet lahir, ribet batin :’D astagfirullah)

Day 2 Abi Mana, Mi?

Suami saya sempat menangis ketika Bang Am si anak sulung mencari dia ketika ingin tidur. Tentu saja Bang Am hanya bisa lihat abinya dari kaca.

Day 3 Aisyah Mau Main Sama Abi

Aisyah nangis ingin sama main sama abinya. Tentu saja tidak saya izinkan. Anak-anak kangen abinya, tapi kami tidak pernah menyebut-nyebut COVID-19 di depan mereka. Saya dan suami pun masih tidak percaya harus bersinggungan dengan wabah.

Day 4 Galau ya Allah :’)

Suami sudah nangis, anak sudah nangis. Saya? Tentu saja menangis sejak hari pertama isolasi, ketika anak-anak sudah tidur. Allah Yang Maha Tahu mengetahui bagaimana berkecamuknya hati ini atas takdir positif Covid. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal…

Saya termasuk bawel di dunia nyata mau pun dunia maya soal bahaya COVID-19, soal pentingnya protokol kesehatan, soal jangan jalan-jalan kalau gak perlu, jangan bertamu di masa wabah, dan lain sebagainya. Saya merasa sudah sangat disiplin menggunakan masker jika keluar rumah, hand sanitizer selalu stand by jika bepergian, setiap menerima paket atau belanja dari luar rumah tidak hanya tangan saya yang dicuci, sak belanjaan-belanjaannya semua dicuci. Bepergian pun tak pernah turun dari mobil, kalau ketemu jam makan siang kami cari drive-thru, bepergian hanya ke rumah ortu/mertua saya.. Saya tidak pernah ke mall meski sudah new normal, tidak pun ke tempat wisata meski katanya semua sepi di mana-mana, ya karena belum berani. Namun, ini bukan tentang saya, yang terinfeksi adalah suami saya yang memang masih ada jadwal bekerja dan rutin keluar rumah.

Suami saya cukup yakin bahwa dia terpapar virus di lingkungan kantor, karena ya beliau juga merasa sudah disiplin dengan berbagai protokol kesehatan. Jadi, tentu ada rasa tidak terima di hati kami ketika harus berurusan dengan wabah. Tidak terbayang sebelumnya bagi kami akan dilema, kegalauan, dan keribetan COVID-19 sampai kini merasakannya sendiri.

Ketika saya masih gusar kepikiran belum lapor RT bahwa sedang isolasi mandiri, eh Pak RT datang ke rumah kami sore itu. Dan mengabarkan tetangga kami ada yang positif dan diisolasi di RS, anak dan istrinya isolasi mandiri di rumah. Deg..inilah jawaban dari Allah untuk kegusaran saya, ternyata tetangga ada juga yang positif dan malah isolasinya harus di RS. Jadi, saat itu juga saya mengabarkan kondisi suami saya. Alhamdulillah, Pak RT sangat mengayomi dan membuat saya tidak merasa dihakimi. By the way, tetangga kami pun terpapar di lingkungan kantor. Bagi siapa pun yang membaca post ini, dan masih harus ngantor, tetap waspada ya! Cluster COVID-19 dari perkantoran nyatanya memang sulit dihindari.

Day 5 Was-was Batuk

Saya terbangun tengah malam karena Bang Am bangun. “Mitu..Mituu,” katanya. Maksudnya dia minta minum, dan dia batuk-batuk. Ya Allah, sekarang setiap anak batuk jadi was-was. Kenapa saya dan anak-anak tidak swab sekalian? Singkat cerita saja: karena Bang Am penyandang autis, membayangkan harus membawa dia ke rumah sakit dan sudah pasti dia akan berontak….. adalah sensasi horor tersendiri bagi saya. Terlebih lagi mau dipaksa swab??? Yang kata suami saya rasanya sakit. Sedangkan cuma disuruh naik ke timbangan kalau mau imunisasi saja sudah minta ampun maksanya :’D

Jadi saya memang tidak berniat membawa swab anak-anak. Sejak suami saya demam sampai sekarang anak-anak dan saya semuanya sehat. Namun tentu masih ada was-was di hati saya, bagaimana jika kami sudah terpapar virus, bagaimana jika kami tanpa gejala? Atau bagaimana jika sekarang masih masa inkubasi virus? Maka saya pun bercerita pada teman yang dokter, apa yang harus saya lakukan tanpa melibatkan RS? Beliau menyarankan untuk menjaga pola makan anak-anak, sedia obat demam dan batuk untuk jaga-jaga jika ada gejala, dan boosting dengan suplemen atau multivitamin untuk anak.

Dan dia juga menambahkan: banyak-banyak doa. Tentu saja, Bu Dokter, tentu saja :’D

Tentu saja saya selalu berdoa untuk kesembuhan suami (dalam arti hasil swab negatif, karena kalau secara fisik suami saya sudah merasa sehat, bahkan ruangan belakang tidak pernah serapi sekarang. Karena isolasi mandiri membuat suami jadi rapi-rapi dan berbenah..hehe). Juga selalu saya berdoa untuk kesehatan saya dan anak-anak. Meski demikian rasanya saya akan terus-menerus deg-degan memantau kesehatan mereka setidaknya sampai hasil swab negatif suami keluar.

Day 8 Retail Therapy

8 kali check out syopi dalam 4 hari terakhir. Rekor. Sebagai perbandingan, saya terakhir beli barang hanya karena nafsu semata (bukan kebutuhan, bukan pengganti barang yang rusak, bukan keperluan jualan buku, bukan titipan pesenan ortu/mertua, bukan menjanjikan sesuatu pada anak) adalah di bulan April. Sekarang? Sehari 2x checkout syopi. Ya rekor lah… Apakah saya jadi bahagia? Yess! Do I need to buy more stuff I don’t need? Yes, this is my emotional spending. Lagian lebih banyak mainan anak yang saya beli, kan mereka juga butuh hiburan selama isolasi mandiri karena mainan mereka terkurung bersama bapaknya di belakang. And yes again, this is just a justification, hanya alasan saya untuk belanja. Syopi adalah pelarian yang ampuh bagi emak-emak yang sedang gusar dan deg-degan. Oh my, who am I kidding, I need to stop…just let me check out this other evamat that I don’t need :’D just one last time.. #forgiveme

Disclaimer:

Retail therapy ini tidak untuk ditiru ya. Saya pribadi juga menyesal sekarang (ketika sudah kelar isolasi mandiri). Belanja untuk melampiaskan stress bukanlah hal yang bijak, lebih-lebih jika kita masih pakai uang orang lain. Anak yang masih minta uang ortunya misalnya, atau istri yang tok-tok pakai gaji suaminya, kita harus benar-benar bijak ketika stres dan tidak malah menghamburkan uang yang hakikatnya bukan milik kita. Alhamdulillah, suami saya meski sedang isolasi tetap disiplin jadi polisi keuangan di keluarga kami, jadi ketika saya sudah mulai hilang kendali..beliau jadi remnya :’)

Day 10 at Last

Sampai juga ke hari 10, saya pribadi sudah biasa lihat suami di belakang. Anak kedua saya masih drama banget kalau lihat abinya dan ingin ajak main. Secara fisik semuanya kami sehat. Anak-anak ketiganya tidak ada yang demam. Alhamdulillah, alhamdulillah..

Karena gejala ringan, sebenarnya 10 hari isolasi sudah cukup. Namun, kami ambil amannya saja, tunggu hingga 2 minggu sejak test swab yang pertama atau 3 minggu sejak demam. jadi masih ada 4 hari lagi.

Day 11 Found Out About Happy Hypoxia this Morning

..and it stressed me out. And I cried right after I read the articles and watched the news. I can’t help but feeling helpless, it feels like danger atfter danger after danger, endless… Astagfirullaah :’D

[suami saya (harusnya) termasuk dalam data ini, dan di hari ke-11 kami isolasi, angka kasus akumulatif sudah mencapai 190ribuan]

Lebai wien! Orang suaminya tanpa gejala…aaaahahahaha, suami udah besar, insyaAllah dia bisa jaga dirinya sendiri. Gimana jelasinnya ya? Saya sudah sebutkan saya tidak berniat swab karena anak saya autis, saya merasa aman karena saya dan anak-anak masih lincah dan nampak sehat. But have you really listen what they said about “HAPPY” hypoxia???? Ketika demam, suami masih tidur dalam satu kamar dengan saya dan anak-anak. Jadi wajar saja jika saya khawatir, bagaimana jika sebenarnya kami sudah terpapar virus Corona? Saya langsung bombardir pertanyaan pada teman dokter saya (maapin aku bu dokter :’D semoga sabar digerecokin) dan beliau mencoba menenangkan.

I know this is the life, there will be good days and bad days.. I thought I already got used to it, but this whole pandemic things :’) ….leaving me distraught.

Besok suami saya dijadwalkan swab, jika semua berjalan sesuai rencana maka hari ke-14 isolasi kami akan mengetahui hasil swabnya. Sejujurnya sejak pertama suami divonis COVID-19, dada kiri saya kadang sakit..intens sekali jika sedang muncul sakitnya, kemungkinan besar karena saya stres saja, kan? Lalu saya mendengar itu yang namanya HAPPY hypoxia :’D sungguuh…. ku tak tau harus apa untuk menenangkan pikiran. Bagaimana jika sakit dada ini karena sudah terpapar virus, dan selama isolasi saya masih gendong-gendong anak-anak, mandiin dan kasih makan mereka seperti biasa. Duh, ngerti gak sih perasaan gusar ini??

Mood saya seharian ini jelek banget, pengen marah-marah terus.. Lihat berita….eh reporternya lagi rekomendasi tempat makan baru di era new normal, ku pengen ngamuk. Lihat tetangga turun mobil mau parkir (padahal belum tentu juga habis pada jalan-jalan), ngedumel sendiri “enaaak yaaa bisaa jalan-jalan, gak perlu isolasii” #alabutejo. Astagfirullah, saya harus lebih banyak istigfar. Bantu hamba ikhlas menjalani masa isolasi yang (semoga) tinggal sebentar lagi ini, ya Allah..

Day 13 Terlalu Hati-Hati, Malah Kena Sendiri

….yaaaa

daripada tidak hati-hati, tapi yang kena orang lain. Iya kalau orang lain yang kita tulari kena gejala ringan, kalau malah sekarat? #dahgituaja

Day 14 The Corona Storm

Kami dapat kabar ketua RW kami positif juga dan Ibu-Ibu di grup RT langsung saling mendoakan. Saat saya menulis ini, kasus akumulatif di Indonesia sudah tembus 200ribuan. Huwow, Mengerikan! Mengagetkan? Tidak juga, karena pemerintahnya hanya bergantung pada kesadaran & kepatuhan masyarakat, kan? Jadi wajar saja grafik naik terus. Coba amati sendiri lah, apakah masyarakat banyak yang sadar bahaya COVID?? Yah..Jangankan yang menengah ke bawah, yang menengah ke atas..ngakunya berpendidikan..punya akses internet, punya TV, dapat semua info COVID, pada gak nyadar kok #tersenyumdatar

DIHARAPKAN LAGI MAU PATUH PROTOKOL KESEHATAN? #tersenyumdalamhatimenangis. Saya tidak bisa membayangkan para nakes desperado-nya sudah seperti apa ya berbulan-bulan tidak serius diproteksi pemerintah. Sekarang saat sudah 200ribuan, baru PSBB lagi?? Saat dikeluarkan travel ban dari 59 negara baru kalang kabut? Out of control already, wahai Para Penguasa 🙂

ah…hanya tinggal doa yang banyak saya panjatkan bagi bangsa ini :’) Semoga pagebluk bisa ditakluk… entah kapan datang waktunya itu, kita jangan harap muluk-muluk. Namun, tetap berdoa teruuus dan teruuus, apalagi kalau sedang batuk-batuk :’D

Day 15

Alhamdulillahillaadzi bini’matihi tatimmushalihat 🙂

What a couple of weeks :’) ..and after all this time, I still stand where I stood before this isolation, for me: HOME IS STILL THE SAFEST PLACE TO AVOID COVID. My hubby also learned his lesson, never forget to pray asking Allah’s protection before going places (because he has to work).

I didn’t regret all my post about COVID (yup, even the sarcastic ones #sorrynotsorry), and I will keep sharing and warning everyone, my family especially, about The Pandemic! Stay safe, stay fit, stay healthy yaa semuanya

Terima Kasih Ku

Kepada orang tua yang selalu mendoakan, keluarga mertua dan abang-kakak ipar yang sangat peduli dan mengirimkan amunisi untuk kami isolasi mandiri, beberapa teman dekat yang selalu menanyakan kabar.. Jazakumullah khayran, semoga Allah menjaga kalian dalam keselamatan dan berkah, di manapun berada.

Juga kepada Pak RT dan Bu RT yang sangat mengayomi, serta beberapa tetangga yang mungkin hanya taunya kami sedang isolasi, tanpa tahu status pos/neg COVID suami saya (karena kami tidak buka semua informasi pada saat itu) dan tetap mengirimkan masakan dan cemilan, sungguh saya terharu :’) Semoga kerukunan tetangga di lingkungan kita selalu terjaga damai, aman, sentausa aamiin..

Last but not least, bu dokter yang selalu ku recokin setiap aku gelisah soal COVID :’), dokter Faiza Hatim (mohon maapin ya tim kalau ada kesalahan aku mengingat nama panjangmu).. Makasih banyak Hatim, yang sabar jawabin setiap chat annoying dari gw, meski pasti sibuk bertugas di garda depan :’D Makasih banyak, semoga selalu sehat-sehat dan kuat menjalani segala tugas selama masa wabah ini, aamiin.