Disclaimer:
Pertama, terapi yang dimaksud pada post ini adalah terapi perilaku. Kedua, jika Anda pertama kali mampir ke blog saya, perlu diketahui:
Saya bukan seorang ahli mengenai spektrum autisma (ASD), saya hanya orangtua dari anak dengan ASD. Apa yang saya tulis, biasanya berdasarkan pengalaman saya dengan anak saya atau berdasarkan ilmu yang saya baca/dengar mengenai topik ini. Jika dapat diaplikasikan pada anak Anda, alhamdulillah. Jika tidak bisa, maka jangan patah semangat mencoba metode/tips/saran/cara lainnya ya (“,)9. Browse more, read actively, choose wisely 😉
Selamat membaca (^^)

Halo, sudah tahu belum bulan April adalah bulan kepedulian autis dunia (world autism awareness month)? Jadi, saya mau bercerita, hehe.
Tahun ini usia Bang Am 8 tahun, pertama kali mengetahui diagnosis ASD dan terapi itu tahun 2015. Berarti saya sudah berkecimpung dengan urusan terapi selama 6 tahun. Belum lama, tapi ya rasanya gak terlalu sebentar juga ya. Momen-momen awal kami bergelut dengan diagnosis autisma bisa dibaca di sini.

Pada kesempatan ini, saya ingin memberikan info tentang hal yang selalu ditemui ketika pindah-pindah tempat terapi (karena saya memang domisili pindah-pindah juga ya, manusia kan dinamis hehe). Mengapa penting mengetahui ini sebagai orangtua? Agar ortu tidak gelagapan menghadapi dinamika perterapian. Metode terapi bisa berbeda (dan selalu berkembang loh ilmunya, selalu ada update di kalangan profesional), terapisnya juga bisa gonta-ganti, tapi jika ortu mengetahui hal ini harapannya nanti untuk masuk ke materi terapi (apapun metode yang digunakan) bisa lebih cepat dan optimal. Aamiin!

Yang pertama, antisipasi Problem Behavior (PB) atau masalah perilaku. Tidak akan bisa masuk materi belajar kalau masih ada PB. Jangankan yang berkebutuhan khusus, anak tipikal juga kalau mau sekolah tapi merengek dulu, nangis-nangis terus cari ortunya, atau apalah teriak-teriak nyanyi tidak mau disuruh diam, bagaimana mau belajar kan? Dan PB ini bisa beragam banget bentuknya pada anak autis. Ada yang teriak-teriak, ada yang tantrum nangis-nangis di lantai, ada yang main ludah, ada yang pura-pura letoy tangannya giliran disuruh menulis (nah itu Bang Am), dan PB ini akan menghambat proses belajar.

Saya tidak akan bahas dari sisi keilmuan tentang PB, karena sekali lagi, saya bukan seorang ahli ya. Jika ingin tahu lebih lanjut teman-teman bisa googling dengan kata kunci “teori ABC skinner” atau bisa juga baca di web BCBA ini. Nah yang bisa saya bagikan adalah pengalaman dengan Bang Am. Alhamdulillah, PB anak saya tidak pernah terlalu ekstrim yang sampai membahayakan dirinya. Pernah deng dulu ada satu yang ngeselin, PB-nya memukul kepala saya dengan kaleng obat nyamuk. Sakit banget itu :’D Dan itu ya justru makin ribet kalau saya marah atau menangis, karena kalau marah-marah….dia malah ketawa, dikira ngajak becanda apa ya? Huh. Tapi sekarang saya tahu alasannya waktu itu ya simpel, dia memang belum ngerti dimarahin. Bagi anak autis, mengenali berbagai macam ekspresi dan emosi memang bukan hal yang mudah.

PB dilakukan anak dengan beragam tujuan. Pada Bang Am ketika terapi atau sekolah, maka fungsi PB-nya untuk menghindar dari tugas yang diberikan. Kunci sukses mengatasi PB, ya jangan diberikan fungsinya. Jadi yang saya lakukan? Cuekin, muka datar tetap arahkan kerjakan tugas. Mudah gak sih cuekin anak lagi PB? Bagi saya: TENTU TYDACK #tersenyumdalamhatimenangis. Tapi bisa? Bisa banget! Dan berlatihlah poker face, karena anak juga belajar bahwa yang akan dia dapatkan ketika PB hanyalah ortu/guru/terapis yang tidak bereaksi apa-apa. Gak asyik kan? Udah nangis-nangis, raung-raung misalnya, tapi malah dicuekin, gak dapat juga hal yang dia mau. Dengan begini, anak akan belajar untuk tidak berulah karena ya tidak ada untungnya juga.

Ketika awal masuk TK umur 6 tahun, juga muncul PB pada Bang Am dan rasanya PB ini cukup banyak ditemui pada anak autis. Lari-larian terus keliling kelas, tidak mau duduk tenang. Bisa jadi karena itu pertama kalinya dia harus bareng sama banyak teman di satu kelas. Memang saya mencari TK inklusi (mau menerima ABK), jadi masih ada porsi kelas individu. Yang dilakukan tim gurunya pada saat itu memperbanyak porsi belajar individu (hanya Bang Am & Bu Guru). Pada kelas mandiri ini, Bang Am dibiarkan berlari-lari tapi tidak boleh pegang mainan. Kalau mau main? Ketebak dong ya? Duduk yang tenang, baru dapat mainan.

Mengatasi PB bukan hal yang mudah, tapi sangat mungkin diwujudkan asal ortu/guru konsisten TIDAK MEMBERIKAN fungsi yang diharapkan anak dari PB tsb. Tidak boleh kalah sama anak ketika muncul PB karena malah akan membuat PB berulang. Anak autis mungkin sulit berkomunikasi, tapi jangan dikira mereka tidak bisa “membaca” orang. Kalau ortu/guru/terapis malah memberikan apa yang anak inginkan secara terus-menerus, ya siap-siap diakalin terus sama anak. Akhirnya sesi terapi hanya sibuk urusin PB, tidak masuk materi ajar, tahu-tahu waktunya sudah habis :’). Semoga tidak demikian ya….

Belajar terapi metode apapun, pasti di awalnya akan dibahas cara mengatasi PB dulu. Karena ya seperti yang sudah saya jabarkan, PB akan menyusahkan pengajar dalam mengajarkan ini dan itu ke anak. Jadi mulailah cek pada anak/murid Anda sendiri dengan merenungkan “Apakah selama ini saya malah mengakomodasi PB-nya anak?” Dan mulai belajar tega yang benar. Ya bukannya tega yang abusive ya, atau tega marah-marah tanpa juntrungan, atau tega yang jahat. Tapi ya itu, tega cuekin anak sebentar kalau mulai berulah, kan tetap kita pantau. Kita dalam satu ruangan dengan dia, bukannya kita tinggalin. Lihat apakah PB-nya membahayakan dirinya/orang lain? Misal PB-nya antukkan kepala ke dinding keras-keras, nah yang begini triknya ya kita peluk supaya tidak berbahaya, tapi tetap dicuekin. Jangan diberikan ekspresi apapun kecuali jika anak sudah tenang.

Yang kedua, bangun koneksi yang baik dengan anak untuk memudahkan kepatuhan ketika belajar. Metode terapi apapun ya tetap dong harus dapat “cucok”-nya ke anak dan kalau saya pribadi, yang saya prioritaskan adalah Bang Am cocok gak sama terapisnya? Jadi meski saya kurang cocok gitu sama gaya terapis/guru, tapi Bang Am menikmati sesi belajar dengan mereka ya saya akan bertahan dengan terapis/guru tersebut. Pernah juga saya minta ganti jadwal (agar terapisnya juga ganti) karena saya lihat, kok Bang Am nangis melulu ya pas terapi, kayak gak menikmati. Tapi selama 6 tahun baru 1x kok ganti begitu, dan alhamdulillah meski pindah-pindah tempat terapi tapi Bang Am adaptif juga.

Salah satu teknik membangun koneksi adalah dengan pairing. Apa lagiii itu? Ahaha, jangan mumet duluan. Simpel kok, pairing ya PDKT alias pendekatan. Oh iya, dan sebagai ortu juga harus pairing ya sama anak(-anak) sendiri 😅👍. Jangan hanya menuntut terapis/guru yang cocok sama anak kita, lah kitanya sendiri gak dekat sama anak :’D #janganatuhlah.

Pairing bisa kita mulai dengan memberikan reinforcer secara gratis. Reinforcer ini bahasa awamnya adalah sesuatu yang dapat memotivasi anak melakukan tugas (hadiah lah gitu cenah) dan didapatkan jika anak mau mengikuti arahan/tugas dari pengajar. Sebagai ortu yang porsinya paling banyak membersamai Bang Am, pairing bisa berulang dan memang harus sering-sering supaya anak juga tidak merasa terbeban dengan sesi “belajar”. Kemudian kita juga harus jeli memberikan reinforcer dan diberitahukan kepada guru/terapis supaya bisa digunakan juga ketika mengajarkan anak.

Sebagai contoh prakteknya, Bang Am ketika masih umur 4-5 tahun itu suka banget cemilan kriuk-kriuk seperti keripik singkong. Nah, saya gunakan keripik sebagai reinforcer-nya. Pada usia tersebut fokus saya masih memantapkan agar Bang Am merespon jika namanya dipanggil. Jadi satu keripik dipotek kecil-kecil saja, saya kasih lihat depan Bang Am. Lalu ketika dia sudah lihat saya punya keripik, saya berdiri menjauh dari dia. Saya panggil namanya, dan dia datang. Ketika sudah datang saya bilang, “Betul, kamu namanya Bang Am” dan langsung saya kasih reinforcernya. Awal-awal tentu dia datang karena saya punya keripik, tapi sekitar 6 bulan, dia sudah paham namanya dan merespon dengan benar ketika dipanggil. Wah, lama ya 6 bulan? Ya di Bang Am prosesnya memang segitu lama, tapi di anak lain bisa saja lebih cepat. Ingat ya Teman-Teman Netijenku, setiap anak beda-beda 😊

Nah ketika kita ingin mengajarkan keahlian, atau materi baru, ya kita pairing lagi. Berikan saja dulu reinforcer secara gratis tanpa tugas, dan bertahap masuk ke tugasnya. Contoh paling baru Januari kemarin. Bang Am mulai lagi terapi ABA meski online. Di usianya sekarang, reinforcer berupa makanan sudah tidak laku lagi, hehe. Jadi saya pakai video berupa lagu-lagu Blippi. Sebelum mulai, ya diinfokan ke terapisnya untuk pakai Blippi agar Bang Am tertarik mengikuti terapi. Minggu pertama terapi, ya terapisnya pairing dulu jadi lebih banyak diberikan reinforcer daripada tugasnya. Masuk di minggu kedua, Bang Am sudah kooperatif dan malah suka nyariin terapinya. Dia bilang, “Zum, teyapi..teyapi” (Zoom, terapi..terapi).

Jika berhasil pairing dengan baik, maka anak juga akan kooperatif. Tentu saya pairing gak selalu mulus ya, ada masanya mood Bang Am lagi jelek, atau ya kebalikannya mood saya yang sedang turun (apalagi kalau lagi PMS 😅). Ya bisa jadi di hari-hari begitu kami gak belajar apapun, Bang Am dibiarin aja di rumah mau ngapain. Nah, sebagai ibu yang saya usahakan adalah menjaga agar mood baik > mood buruk. Kemudian pairing ini juga butuh kecermatan kita melihat apa sih yang anak sukai dan bisa dijadikan reinforcer? Dan sifatnya ini bener-bener tergantung kondisi di rumah masing-masing, gak bisa disama-samain yaa… Jadi,

Kita masuk ke benang merah ketiga, sesuaikan target program dengan kebutuhan anak and it’s very very very customized, benar-benar tergantung sama kondisi kita di rumah/sekolah dan itu pasti beda-beda antara satu anak dengan yang lainnya. Saya pernah ikut berbagai seminar terkait topik autisme. Narsumnya beragam latar belakang, bisa terapis, ada guru, ada BCBA, psikolog, dokter anak, dokter syaraf anak, profesor bahkan, dsb. Dan yang saya perhatikan dari para ahli ini jika ada pertanyaan, “Jadi target untuk anak saya bagaimana?” itu jawabannya: “Tergantung anaknya, Bapak/Ibu”. Apapun metode yang sedang dipresentasikan, kalau pertanyaannya demikian, maka jawabannya: Tergantung 👍 #okesip

Jadi bagaimana? Ya kita sebagai orangtua yang harus teliti, kita sebagai orangtua yang harus berdaya. Bermitra dengan sekolah atau klinik terapi, bukan berarti kita serahkan semua ke mereka. Berdasarkan pengalaman saya, ya bisa saja pindah-pindah tempat terapi, bisa ganti-ganti terapis, tapi kan ajarin Bang Am ini itu di rumah gak boleh stop, jadi saya posisikan diri sebagai “ketua kelas” setiap bermitra dengan sekolah/klinik. Bagi saya dan prinsip saya, sekolah bukan “bengkel” dan ortu terima beres. Justru kebalikannya, rumahlah tempat “penataran” bagi semua anak saya, kalau bisa justru sekolah yang terima beres (tapi ya #kuhanyamanusiabiaza yang jauh dari sempurna). Jadi ketika saya menjadi “ketua kelas” saya berusaha memahami betul kendala-kendala yang muncul ketika menerapi Bang Am dan saya komunikasikan pada mitra saya (terapis dan atau guru).

Jika ada masukan dalam cara saya mengajar dari terapis/guru, maka legowo memperbaiki diri. Tidak perlu gengsi dinasehati, dan jangan pula malu bertanya. Lebih baik banyak bertanya dan berulang jika memang belum paham, daripada salah mengajarkan materi terapi. Tidak perlu juga jaim dan takut dinilai bodoh. Ya kalau memang belum tau, cari tau 🙂

Sekali lagi, metode terapi bisa ganti-ganti, tempatnya ganti, guru berganti. Namun ketika tiga hal ini sudah ortu pahami, insyaallah di mana saja dan bagaimana pun dinamika terapi anak… Ortu bisa lebih sigap membantu anak untuk beradaptasi. Dan ini tidak hanya demi perkembangan anak loh, tapi demi kemudahan ortunya membersamai anak juga. Lebih siap mental gitu harapannya, aamiin 🤲

TETAP SEMANGAT YAAAH (“,)9