Beberapa waktu lalu saya mengikuti zoominar bertajuk “Practical Reading Towards” dengan pembicaranya Bu Riska Timothy dari Surabaya. Ketika Zoom, banyak contoh praktik yang dapat kita tiru untuk anak masing-masing, materinya sangat aplikatif. Namun saya tidak akan membahas detail karena buanyaak dan ternyata zoom-nya juga masih akan bersambung kayak sinetron “Tersanjung” #hagimana? Hehe, bercanda 😛

Materinya masih bersambung karena mengajarkan membaca bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) memang usahanya ekstra. Ternyata 1x zoom masih kurang jika ingin membahas topik ini secara komprehensif. Jika teman-teman ingin mendapat informasi mengenai zoominar selanjutnya, coba cek FB Bu Riska Timothy ya. Berhubung saya tidak mainan FB, jadi silakan aktif mencari informasi dari berbagai komunitas peduli autis langsung di Facebook. (Kemarin saya ikut Zoom “Practical Reading” ini karena diajak teman hehe).

Yang kali ini akan saya bahas lebih ke pesan yang paling berkesan dan beberapa kali diulang oleh Bu Riska ketika mengisi materi, “Membaca itu penting, membaca itu bekal kehidupan”. Bagaimana tidak? Ke mana saja kita pergi, kita butuh kemampuan ini, minimal membaca simbol dan gambar. Sedang nyetir keluar kota, kita butuh bisa membaca penunjuk jalan, bukan? Sedang ke tempat wisata dan kebelet BAK, kita perlu bisa mencari lambang WC, bukan? Pun dengan ABK, mereka juga butuh kemampuan ini untuk dapat bertahan hidup. Jadi ortu ABK patutnya memperhatikan hal ini dan membantu anak agar dapat belajar dengan baik. Mungkin lain ceritanya bagi anak yang memiliki gangguan belajar seperti disleksia, maka kita mencari cara lain untuk dapat membantu anak belajar selain dari media baca-tulis dan sebaiknya berkonsultasi dengan ahlinya.

Ternyata ABK secara umum, dan penyandang autis secara khusus, dapat dikenalkan dengan membaca sejak dini loh, sama seperti teman-teman mereka yang tipikal. Pendekatan mengajarnya mungkin yang berbeda. Jika anak-anak tipikal umumnya diajarkan alfabet terlebih dahulu, mulai A sampai Z, kemudian dikenalkan membaca suku kata ba-bi-bu-be-bo, maka pada anak autis belum tentu bisa demikian. Pengalaman saya dengan anak saya (Bang Am, ASD usia 7 tahun), ketika saya ajarkan huruf satu persatu dia tidak tertarik. Seringnya ketika saya ajar alfabet, dia melengos pergi :’D #perihhatiku. Bang Am mulai tertarik dengan huruf alfabet dari mana dong? Logo-logo berita di TV, dan yang saya perhatikan dia juga mengetahui bacaan logo berita tersebut dari voiceover ketika acara berita dimulai, atau dari iklan acara berita tersebut.

Slide penutup materi Zoom Bu Riska

Hal ini umum pada anak autis, jadi sebaiknya ortu masuk pengenalan membaca dari sana. Biasanya anak-anak autis lebih mudah menangkap lambang dan simbol jadi ortu sebaiknya observasi barang/hal apa yang disukai anak dan bisa dikenalkan bacaannya. Barangnya bisa dimulai dari yang digunakan sehari-hari saja, misalnya dari kemasan sabun mandi anak, merek TV di rumah, merek kulkas, atau tulisan di baju anak, hal-hal yang sederhana saja kok, yang memang anak juga familiar dengan barang tsb. Tentu ada juga anak autis yang justru terobsesi dengan alfabet ya, bahkan bisa membaca sendiri tanpa diajari. Namun, perhatikan ini, keahlian membaca itu tidak berhenti hanya sampai bisa mengeja dan melafalkan kata-kata.

Kendala membaca selanjutnya yang harus ortu hadapi: apakah anak saya memahami isi bacaan? Dan bagi anak autis secara umum untuk bisa sampai ke pemahaman dari apa yang dia baca mungkin jalannya lebih berliku. S-A-B-A-R dan terus kita latih ya. Bang Am sendiri, jika sekadar mengeja kata-kata yang sering dia lihat, tentu sudah bisa. Namun apakah Bang Am tahu arti katanya? Apakah dia bisa membaca kalimat? Apakah dia mengerti informasi yang dia peroleh dari suatu kalimat? Belum :’) #tersenyumdalamhatimenangis.

Lalu bagaimana kita dapat melatih pemahaman ini di rumah? Salah satu cara yang paling mudah adalah membaca instruksi, misal “makan”, “tepuk tangan”, “melompat”, “buka pintu”, “berdiri”, dan ini bisa ditulis saja pada potongan kertas. Kita minta anak membaca, setelah itu kita lakukan intruksi tersebut bersama anak. Cara yang mirip bisa juga dengan memberi label pada barang-barang di rumah. Jika anak sudah ahli dalam tahap ini, maka kita bisa lanjutkan dengan membaca cerita dari buku-buku sederhana. Bahkan lebih baik lagi jika kita buat buku saja sendiri dengan menggunakan foto anak yang sedang melakukan aktivitas harian, di bawah foto anak kita berikan deskripsi aktifitasnya. Bukunya tidak harus tebal, namun bermakna bagi anak dan insyaallah lebih menarik karena tokohnya adalah diri anak sendiri 🙂 Buku aktifitas harian seperti ini dapat membantu anak memahami konteks dari suatu kalimat. Jika anak sudah mengerti kalimat, harapannya dia bisa mandiri membaca buku.

Jika Anda memiliki ABK di usia baru 3-4 tahun, maka mulailah sigap mengenalkan membaca dengan harapan belajarnya nanti akan lebih mudah. Namun, tidak pula tertutup kemungkinan mengajari membaca di usia lebih besar yang penting apa? S-A-B-A-R, sabar, sabar dan cermat. Cermati hal apa yang disukai anak dan hal tsb mengandung tulisan? Lambang restoran, mungkin? Papan jalan, mungkin? Baliho iklan, mungkin? Atau malah anak menyukai video fonik alfabet yang mudah ditemukan di Youtube? Atau tulisan dari acara kartun di TV? Mulailah dari hal yang anak sukai, agar kegiatan belajar membaca menjadi menyenangkan untuk mereka. Harapan kita, hati anak senang, belajar jadi tenang, Ibu-Bapaknya juga jadinya hatinya lapang, kan? Hehe.

Kira-kira demikian informasi yang saya tangkap dari materi Bu Riska kemarin. Semoga bermanfaat (^^)