Masih Oktober nih, masih masuk tema ya kalau mau nulis dikit tentang #mentalhealth (ya padahal mah mau bicara tentang kesehatan mental itu kapan aja relevan ✅)

Seperti sepatu merah ini, saya juga berhak… tapi sering kali (dalam keseharian saya), “hak” nyaru sama “excuse”.
“Aku berhak istirahat” cucian piring numpuk sampai besok lagi, padahal malemnya ya tetep tidur larut. “Istirahat”-nya malah scrolling IG yang gak jelas. Akhirnya badan juga gak istirahat, cucian piring juga gak selesai.

“Aku berhak marah, aku lelah”, lantas anak-anak diteriakin gak ada juntrungannya. Sekarang yang marah ada banyak, anak bocah juga. Padahal kalau mundur sedikit, menenangkan diri sendiri: mukulin bantal kek, sobekin kertas bekas kek, atau sesimpel ke kamar mandi cuci muka, atau mandi sekalian… my point: kalau hak untuk marah dilampiaskan ke benda mati, yang menang banyak. Anak-anak gak akan terluka batinnya karena kemarahan ibunda yang sering kali meningkat tanpa sebab yang jelas (apalagi kalau PMS, lebih-lebih kalau bundanya punya refleks “cubit”, “pukul”, “tampar”…. hati-hati diingat sampai tua yah sama anak, bahkan bisa jadi diulang ke cucu kelak #justsayin)

Tentu saja SAYA berhak. Berhak bahagia, berhak istirahat, berhak berpendapat, berhak sehat mental, berhak hidup sejahtera, dan hak-hak lainnya. Tapi konsekuensi logis dari memiliki hak, saya juga berkewajiban.
Saya gak bicarakan orang lain, tapi ya idup sendiri aja sebagai seorang ibu.

Ibu berhak “me time”, tapi Ibu punya kewajiban “family time”, dan (sekali lagi) gak perlu tunjuk orang lain….masing-masing kita tahu persis apakah ketika “family time” diri kita sepenuh hati mengajarkan anak-anak. Apakah hati kita tulus membersamai mereka bermain?

Ibu berhak istirahat, tapi ada waktunya. Ketika sehat, apa sudah mengurus rumah dengan sekuat tenaga? Tidak menumpuk pekerjaan dengan sengaja. Ketika sempat, lebih memilih angkat jemuran, atau selancar dunia maya tanpa jemu? Lalu ketika kerjaan menumpuk, berdalih sibuk main dengan anak-anak. Padahal anak-anak juga gak digubris :’)

Ukur diri sendiri, introspeksi. Review lagi definisi “HAK”, cek lagi “KEWAJIBAN”. Ulangi.
Setiap hari.
Karena bukan cuma kita yg berhak 🙂