Echi tentu saja berharap dia akan mendapatkan jodoh yang tepat seperti Kak Kim yang ketemu Pak Hong. Pertanyaannya, kapan bisa fokus nyari jodohnya ya, Mba Echi? “Mon maap, kagak tau. Business plan, email, sagala presentasi aja gak kelar-kelar ini”. Echi pun #tersenyumdalamhatimenangis (⁠〒⁠﹏⁠〒⁠)

Tekanan dan target pekerjaan Echi memang suka ajaib. Namun, Echi punya kolega-kolega yang baik hati dan lingkungan kerja yang cukup nyaman. Seperti wanita modern pada umumnya, Echi ingin fokus berkarir dulu, tidak mau menikah muda. Menikah muda juga tidak bijaksana karena Echi jadi tulang punggung keluarga sejak lulus kuliah. Ibu dan ayah Echi juga tidak pernah bahas-bahas topik pernikahan.

Jadi Echi santai saja, sampai tiba ultahnya kepala 3. Sahabatnya yang masih jomblo tinggal hitungan jari sekarang. Yang lainnya kalau bukan bulan madu, ya liburan bersama keluarga. Teman-teman Echi bukan orang udik, mereka tidak pernah ngeledek “kapan nikah?”, kalau Tante-tantenya Echi? Ya lain cerita, hehe (nanti kalo dibilang udik…maraaah. Tapi saban ketemu, ituu aja terus pertanyaannya 😮‍💨)

Kesepian tak terelakkan. Apalagi saat tiba akhir bulan, kejar-kejaran target kerjaan. Gaji bulanan habis untuk cicilan. Masuk bulan baru, siklusnya berulang. Rasanya hidup berjalan tanpa arah dan tanpa jiwa, soulless ceunah!
Waktu burnout, tidak ada teman cerita. Kadang iri lihat Mba HRD yang seumuran Echi, pulang ke rumah disambut prakarya anaknya, lalu update di status WA.

“Saya kapan nikahnya ya, Mba?” tanya Echi waktu ada sesi 1-on-1 dengan HRD. Rutin tiga bulanan untuk kesehatan mental pegawai. “Ya cari atuh pacarnya, hehe” canda Mba Ria yang juga seorang psikolog.

“Ya pasti kepikiran kalau udah masuk umur 30 ya, Mba Echi. Biarpun mungkin kitanya gak definisikan bahagia itu harus menikah, gak gitu ya. Tapi memang ada fase perkembangan manusia yang dia mencari pasangan hidup. Ya di usia produktif kayak Mba Echi” Mba Ria mulai menjelaskan.

“Mba Echi tapi kalo mulai cemas, overthinking gitu jangan diturutin yah, Mba. Langsung cari kesibukan aja, bisa simpel aja kok. Olahraga, baca buku, tapi kalo aku sih sukanya nyuruh cuci piring” lanjut Mba Ria.

Echi pun beranjak mau ke pantry, tapi ditahan sama Mba Ria. “Yaa gak sekarang jugaaa nyucinyaa, kan lagi konsul ini. Suka becanda yah Anda”. Mereka melanjutkan konsul yang menyenangkan. Dari penjelasan Mba Ria, kecemasan yang dirasakannya karena tak kunjung punya romansa masih dalam batas wajar. Butuh pengalihan dan kegiatan menyalurkan overthinking di otak Echi, yang ternyata tidak perlu keluar uang, hanya sedikit tenaga.

Di rumah, Echi membuktikan saran Mba Ria. Memang bebersih rumah itu ternyata menenangkan pikiran…mayaan dah! Pas nyuci piring, bisa refleksi makna kehidupan. Pas sikat kamar mandi, bisa evaluasi kebodohan masa lalu sambil senandung lagu “Yesterday”. Habis nyiram taneman, liat daun muda (pun intended) langsung segar matanya. Pas lantai kinclong abis ngepel, lega & puas rasanya.

Akhir minggu Echi sekarang hektik demi efek terapeutik. Sepi sih tetap masih, nikah sih tetap pengen. Namun, setidaknya tidak overthinking. Pikiran yang tidak-tidak sudah menguap saat menjemur pakaian. Echi siap lagi deh temu-kangen (tapi benci) sama Senin ᕙ⁠(͡⁠°⁠‿⁠ ͡⁠°⁠)⁠ᕗ

@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc2304

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: