Hi internet! Biar pun telaaat tapiiii….Selamat Idul Fitri 1438 H yaaa, semoga ketemu lagi dengan hari raya tahun depan, aamiin! Ini cerita kami mendadak pulang kampung. Begini rasa dapat rezeki tak disangka-sangka. Rezeki tidak semata-mata punya uang untuk beli tiket, tapi juga ada kesempatan untuk pulang saat kami sudah mempersiapkan mental berhari raya jauh dari keluarga besar. Allah memang Maha Baik, alhamdulillah. :’)

Post kali ini akan memberi sedikit tips berbenah mendadak, tapi lebih banyak sih akan membahas feelings ya. Perasaan sedih ketika tahu suami tahun ini sesungguhnya belum dapat jatah mudik dari kantor, sedangkan cek-cek tiket pesawat Makassar – Jakarta harganya ya lumayan, kalau berempat pada pulang rasa-rasanya THR bisa ludes amat cepat πŸ˜… As much as I love living on our own in Makassar, I also miss Jakarta. I miss our (me and my hubby) big family. Rasa-rasanya sangat sedih kalau harus lebaran di kampung orang, hanya kami dan anak-anak. Tidak ada list saudara yang dikunjungi, paling sekedar mampir ke tetangga-tetangga yang juga relatif baru kenal. Berat hati, tapi saya menguatkan diri dan mempersiapkan mental untuk hari raya “sepi” tahun ini.

Setiap ibu saya atau mamah mertua bertanya di telp: ga pulang? Kami selalu jawab tanpa PHP (pemberi harapan palsu): belum bisa, tahun depan insyaAllah :’) berkali-kali ditanya, berkali-kali pula kami beri jawaban yang sama.
H-3 lebaran, ketika sedang asyik mahsyuk cuci piring, terjadilah percakapan berwacana dengan kekasih hati:
Hubby (H): nanti aku tanggal 3 (Juli) meeting di Jakarta ya mi, pulangnya baru tanggal 9. Gimana kamu? Ga apa ditinggal seminggu?
Saya (U): ya ga apa, mau gimana? Kalo bisa ikut mah pengennya ikut, sekalian mudik kan ahaha.
H: mmm, sebenernya bisa sih kalo mau pulang. Ga apa kita pakai budget yg ada aja, kalo (tiket) aku kayanya bisa dibayarin kantor, kan skalian meeting. Jadi tinggal kamu sama anak-anak aja. Gimana? Mau pulang aja?
U: hah? Yang bener ni..beneran bisa pulang ga?

H: ya ga tau juga sih, aku mesti tanya kantor dulu..kalo bisa nanti kita pulang hari sabtu (H-1 lebaran)
U: LOH? Mudik nih?? Beneran?

H: iya nanti tapi ku pastiin dulu deh ya..ijin cuti dulu, tapi kalo jadi pulang bulan ini budget di-hemat hemat ya..
U: Ah abunya yang bener dong, jangan PHP ya.

H: Mmm, yaudah liat nanti deh. Nanti dikabarin..

Pagi itu, suami berangkat kerja, saya melanjutkan cuci piring lalu beresin anak-anak mau survey PAUD buat si bungsu. Cucian baju masih menumpuk, dan saya memang berencana menyelesaikan cucian baju pada hari Jumat. Fikir saya: kalo jadi mudik, berangkat Sabtu, masih ada Jumat buat beresin rumah. Jadi saya santai. Pulang dari PAUD sama anak-anak, suami minta dikirim foto KTP. Wah, saya sudah sangat senang, biasanya kalau minta no. KTP berarti mau booking tiket. Tidak lama kemudian ada WA lagi: berangkat besok jam 10 mau? Lalu saya jawab: HAH BESOK? Dan saya langsung kalang kabut mau beresin cucian, ahaha. Siang itu kami tarik ulur soal jam berangkat, singkat cerita akhirnya kami putuskan berangkat siang. Setelah tiket ter-booking, kami pun sepakat tidak akan bilang-bilang pada ortu kami bahwa kami akan pulang. It will be a surprise πŸ˜‰

I personally love surprises (and or) giving a surprise, ada perasaan senang ketika melihat orang terkejut (hopefully) bahagia ketika kita memberikan sesuatu yang menyenangkan mereka secara tiba-tiba. Saya rasa sebagian besar orang juga suka dikejutkan, ada euforia yang akan terkenang-kenang sepanjang masa #lebai. Sejak awal Ramadhan, kami sudah kabarkan pada ortu saya dan mama mertua bahwa kami tidak bisa pulang kampung tahun ini. So we think, it will be a lovely surprise when we knock on their door the day we got home πŸ˜€



Sebelum lanjut ke bagian kejutan kami untuk ortu, kita bahas sedikit cara berbenah mendadak. Jadi ketika waktu berbenah saya kurang dari 24 jam, sedangkan rumah kami memang sedang dalam keadaan sangat berantakan (#setiapharimemangbegitu πŸ˜… #nasibemakemaksoksetrong #gamaupakaiART), maka saya harus pintar-pintar memilih prioritas. Dan prioritasnya adalah gak boleh ada cucian (piring mau pun baju) kotor. Siang hingga sore terkuras menyelesaikan cucian yang numpuk, dan anak bocah dengan terpaksa di-anteng-in pakai gadget #maafkanhambayaTuhan. Menjelang magrib masak seadanya buat buka puasa, pas suami pulang packing baju buat mudik. Karena buru-buru dan malam itu mau packing dalam keadaan hayati sudah lelah, maka kami putuskan bawa 2 koper saja, koper kecil untuk baju suami dan koper besar untuk baju anak-anak dan saya. Beruntung sebelum pindah ke Makassar kami sudah sediakan spare baju di Jakarta, just in case mudik begini jadi orang dewasanya ga perlu bawa baju terlalu banyak. Meski penerbangan siang, kami tetap harus check-in pagi karena masalah teknis supaya saya dan suami dapat seat yang sama. Jadi waktu kami di pagi harinya juga sangat sempit, kami gak sempat bereskan mainan anak-anak yang masih berantakan dan ngepel-ngepel lantai. Jadi mainan ditumpuk alakadarnya di box, dan lantai disapu sekenanya aja πŸ˜…. Kami pastikan peralatan elektronik pada dicabut, gas dicabut, pintu belakang dikunci, pintu kamar dikunci, lampu-lampu yang di dalam keadaan menyala (tapi lampu luar tidak) –> dengan harapan kalau malam ga dikira kosong #namanyajugausaha πŸ˜…. Kemudian kami pamit sama tetangga dan satpam komplek. Sisanya tinggal berdoa pada Allah untuk menjaga rumah dalam keadaan aman, aamiin.

Ini pengalaman pertama seumur hidup bagi suami untuk pulang kampung, karena memang keluarga suami orang  Betawi, jadi memang kalau lebaran gak pernah kemana-mana. Nah tahun ini baru terasa deh ribetnya mudik, jadi excited yet nervous gitu loh pas mau ninggalin rumah. Saya pun nervous, tapi kalau emak-emak nervous-nya yaaa…ga jauh-jauh dari urusan bocah. Takut bocah rewel pas take off dan landing, takut pada pupu di pesawat (terus kejadian, si Abang lagi yang pupu, banyak pulaa (+_+)..ribet bgttt nyak babe, tapi ya harus dinikmati, masih untung bisa mudik ^_^), takut tantrum pas nunggu dan atau selama penerbangan, yang gitu-gitu lah. Alhamdulillah, meski ribet di sana-sini, tapi penerbangan dengan anak-anak kali ini lebih baik daripada pertama kali terbang. Dan kalau mungkin teman-teman yang sedang baca post saya ini pernah ikutin cerita tentang si Abang yang punya special needs, maka saya harus kasih tau penerbangan kali ini membuat saya sangat senang, karena si Abang menunjukkan minat untuk melihat ke jendela pesawat dan senyum-senyum saat sadar bahwa pesawatnya mulai terbang 😊. Si Abang selalu berhasil membuat saya bahagia, dengan cara yang mungkin terlihat sangat sederhana :’) Cuma sekedar tahu bahwa dia sadar dia sedang di pesawat dan senyum-senyum –> bisa membantu saya supaya ingat bersyukur, karena Allah baiiik banget udah kasi progress buat my babyAm.

OK, kita lanjut ke bagian kejutan untuk ortu ya. Kalau part saya lebih simpel, ketika sudah boarding saya merasa safe enough untuk keep my sister posted about our homecoming via IG story, karena kami sampai Jkt malam dan pasti ga bisa langsung mampir ke tempat ortu saya, jadi saya biarkan adik saya tau bahwa kami pulang. Sampai Jkt baru saya telp Ibu dan jelaskan bahwa anak-anak juga sudah pada tidur, jadi akan mampir keesokan harinya. Nah, kalau untuk mama mertua memang suami sudah tekad gak mau kasih tau sampai beneran sampai depan rumah mama. Dan sesampainya di rumah mamaaa….eng ing eng, gak ada orang. Bahaha, gak deng..kami fikir gak ada orang karena dibuka pintunya agak lama. Tapi yang membuat makin senang adalah melihat ekspresi mama yang genuinely surprised (^^) sambil bilang: Eh kok pulang, Dek???! (“Dek” adalah panggilan mama untuk suami saya, karena beliau anak bungsu). Dan kami pun cuma cengar cengir sambil gendong bocah yang pada tidur, senang karena ternyata kejutannya berhasil πŸ˜€

Lalu mama tentu lanjutkan komennya ala ibu-ibu banget, seperti:

“Yah mama masak lebaranan cuma sedikit, kirain gak pulang”

“Kemarin katanya gak pulang, mama jadi gak beli kue lebaran..abis nanti gak ada yang makan. Yah tau gitu kemarin beli di temen mama..kirain gak pulang” πŸ˜…

Dan setiap mama bilang “kirain gak pulang”, saya sambil cengengesan cuma bisa bilang: “Ya kami aja kirain kami gak bakal pulang, ahaha”. Karena yaa memang begitu kondisinya, kami gak menyangka kami bisa mudik tahun ini. We don’t expect this moment of homecoming, and as a wise acquaintance told me:

The unexpected moment is always sweeter. πŸ™‚
Damn yeaah she’s right! 😊

Ini cerita unexpected moment kami, and for this, we are eternally grateful πŸ™‚

Thank you, Allah..

 
 

Advertisements