This post originally written in April (the World Autism Awareness month) for Rumah Autis (a non-profit organization whose concern is to provide special education care for children with special needs especially from the less fortunate families). Karena satu dan lain hal, saya baru bisa post sekarang dan artikel ini menjadi hak milik Rumah Autis.

“Anak Ibu dan Bapak perkembangannya telat..” “Anak Bapak punya gangguan bicara..” “Anak Ibu kemungkinan memiliki spektrum autisme..” Terkadang tidak semua orang tua mampu mengerti rasanya mendapat vonis bahwa anaknya “tidak normal” sampai mengalaminya sendiri. Kebutuhan khusus katanya para ahli. Maknanya adalah ketika tidak ada yang mampu mengerti apa yang anak butuh dan inginkan kecuali hanya segelintir orang saja: orang tua, kakak-adik, dan atau kakek nenek, dan atau guru / terapis. Yang sering membuat terasa berat adalah, terkadang segelintir orang ini pun sulit menerima kondisi spesial yang terjadi pada sang anak. Berkali-kali menolak kenyataan dan menunda-nunda untuk peduli, menghindar dari topik mengenai autisme, bahkan tidak mau mengenal istilah tersebut dengan alasan tidak mau me-label-i anak. Jika demikian, pernahkah kita merenungkan siapa yang akan menerima kondisi sang anak, jika orang terdekat mereka saja pun rasanya kesulitan untuk mengerti?

Kebutuhan khusus, rasanya adalah istilah yang lebih disukai ketika berbicara tentang autisme. Dan tidak ada yang salah dengan prinsip anti-label anak, karena sebenarnya istilah “anak normal” adalah sesuatu yang relatif. Apa yang normal bagi kita, belum tentu normal bagi orang lain. Namun, bagaimana pun kita menghindar dari membicarakan tentang autisme, nyatanya autisme tetap akan berada di tengah-tengah kita, dan pertanyaannya sekarang: apakah kita akan terus menghindar dan abai sehingga sengaja atau pun tidak, kita mengecilkan dan mengucilkan hak anak-anak autis untuk diterima dalam masyarakat? Autisme adalah spektrum yang bisa terjadi pada siapa saja,muncul pada usia berapa pun, dan 90% tidak dapat diketahui penyebab pasti terjadinya. Untuk menjelaskan mengenai spektrum dapat dianalogikan dengan ketika kita melihat sebuah warna, merah misalnya, spektrum warna merah mencakup pink pucat hingga merah darah, dari merah dengan pigmen yang ringan hingga yang berat. Spektrum autisme memiliki cakupan yang luas, namun benang merahnya adalah: mengalami kesulitan untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi sosial. Autisme bukan penyakit, jadi tidak ada yang perlu disembuhkan. Namun, kita dapat membantu anak-anak dengan autisme untuk dapat mandiri dan berinteraksi lebih baik dengan lingkungannya dengan cara menerima dan mengasihi.

Menerima, meski tak mengerti, terutama bagi orang tua dan keluarga terdekat. Mengasihi, bukan mengasihani. Dua hal sederhana, namun tidak mudah. Memiliki anak secara umum adalah hal yang menguji kesabaran seseorang, apalagi bila Tuhan menghadiahkan karunia anak berkebutuhan khusus pada kita. Sabarnya harus double, atau mungkin triple (jika ditambah dengan ujian berupa penolakan keluarga atau lingkungan terhadap anak kita). Tapi percayalah wahai para orang tua, jika Tuhan hadiahkan pada kita seorang (atau lebih) anak berkebutuhan khusus, maka Dia juga sudah anugerahi kita dengan kesabaran dan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengasuh anak-anak spesial ini. Permasalahannya adalah, apakah kita sudah sadari anugerah tersebut? Bagaimana masyarakat mau menerima, jika orang tuanya sendiri pun tidak bisa menerima? Orang tua harus menjadi sandaran pertama bagi anak-anaknya untuk mendapat perlindungan dan kasih sayang. Masalah apakah dunia akan menerima anak-anak ini akan menjadi prioritas ke-sekian jika orang tua sudah mampu menerima kondisi anak secara utuh. Bagaimana caranya? Jangan malu dengan kondisi mereka, perlakukan mereka penuh kasih dan banggalah dengan segala pencapaian sekecil apa pun. Jika kita sudah mampu jalankan ini, maka membuat dunia mengerti akan terasa lebih mudah. Di era arus deras informasi seperti sekarang, yang diperlukan hanyalah bicara, jangan hindari topik tentang autisme. Terkadang orang memandang aneh dan takut kepada sesuatu disebabkan karena ketidaktahuan. Dunia hanya belum mengerti, tapi semakin kita bicara, kita akan sadari bahwa ternyata dunia pun dipenuhi dengan banyak orang yang mau peduli. Selamat World Autism Awareness Day, mari bicara tentang autisme đŸ™‚ #kitapedulimerekamandiri

Advertisements